Home > 19 BAB II RETRET BAGI KAUM MUDA 2.1. Tinjauan Umum Kaum Muda Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia ya

19 BAB II RETRET BAGI KAUM MUDA 2.1. Tinjauan Umum Kaum Muda Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia ya

Page 1
19 BAB II RETRET BAGI KAUM MUDA 2.1. Tinjauan Umum Kaum Muda Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Salah satu faktor yang dapat mempe rcapat perkembangan globalisasi di Indonesia adalah kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi yang berasal dari luar negara. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. 6 Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Dalam kata globalisasi tersebut, mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, akan mengakibatkan masuknya barang dan jasa,selain itu juga terdapat teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi seba gai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi adalah bahwa globalisasi
6
Dokumentasi Hasil Sidang Agung Gereja Katholik Indonesia 2009, hal. 348.

Page 2
20 merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Dengan begitu banyak faktor yang menyebabkan perkembangan globalisasi semakin cepat berkembang, globalisasi itu sendiri juga dapat berpengaruh terhadap kaum muda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya. Salah satu pakar psikologi perkembangan menyatakan bahwa masa remaja ini dimulai pada saat anak mulai matang secara seksual dan berakhir pada saat ia mencapai usia dewasa secara hukum. Banyaknya permasalahan dan krisis yang terjadi pada masa kaum muda ini menjadikan banyak ahli dalam bidang psikologi perkembangan menyebutnya sebagai masa krisis. Pada masa ini perubahan terjadi sangat drastis dan mengakibatkan terjadinya kondisi yang serba tanggung dan diwarnai oleh kondisi psikis yang belum mantap, selain dari pada itu periode ini pun dinilai sangat penting bahkan seluruh masa depan individu sangat tergantung pada penyelesaian krisis pada masa ini.7 Perkembangan globalisasi ini mengakibatkan banyak kaum muda yang belum mengerti tujuan hidup mereka. Sehingga, gaya hidup kaum muda yang mencari jati diri dapat mereka cari dengan cara yang negatif, dan dapat mengakibatkan suatu resiko yang membuat kaum muda menjadi salah dalam mengenali jati diri mereka. Setiap kaum muda selalu mengalami proses mencari jati diri seiring dengan meningkatnya perkembangan mereka, dan sebagai masa transisi dari remaja menuju dewasa. Proses mencari jati diri atau identitas diri ini, bukanlah hal yang mudah bagi anak remaja, sebab sering kali mereka dihadapi hal-hal atau kondisi yang sulit dipahami, sehingga tidak jarang mereka mengalami krisis identitas diri. 2.1.1. Pengertian Kaum Muda Manusia mengalami perkembangan bertahap di dalam kehidupannya. Mulai dari usia kanak-kanak (umur 1-5 tahun), usia sekolah dasar (6-12 tahun) dimana dalam tahap ini anak- anak mulai menyadari hal-hal di luar dirinya, wawasan konkretnya berkembang, namun masih belum bisa mengembangkan kemampuan analisanya.
7
http://rendhi.wordpress.com/makalah-pengaruh-globalisasi-terhadap-eksistensi-kebudayaan-daerah, diakses tanggal 8 Maret 2012.

Page 3
21 Usia Adolesen (13-20 tahun) merupakan tahap perkembangan ego dimana pencarian identitas diri, mencari jati diri untuk bisa diterima oleh masyarakat sekitar ini dilakukan. Pada usia ini, manusia mengalami perubahan drastis pada tubuhnya mulai dari postur tubuhnya maupun genitalnya sehingga ia menjadi super sibuk dengan dirinya sendiri. Usia ini disebut usia remaja yang sering mengalami kebimbangan, baik dalam menghadapi perkembangan fisik maupun mentalnya, maka pada usia ini penting keberadaan kelompok usia sebaya yang memacu pada kegiatan positif, jalinan komunikasi yang sehat juga harus mendukung apalagi dalam lingkungan keluarga. Memasuki tahap berikutnya, merupakan usia dewasa awal (21-30 tahun), mereka telah menemukan karakter kepribadian dan memahami dirinya sendiri. Hal ini membuat mereka mampu mematangkan kemampuan sosialisasinya. Pada tahap ini, penampilan fisik, menjadi sarana pokok untuk bisa menarik lawan jenis. Tahap berikutnya adalah tahap dewasa (31-60 tahun), dalam usia ini, manusia dianggap betul-betul dewasa penuh, baik fisik maupun karakter psikologisnya. Merupakan usia yang produktif dari segi pemikiran dan financial. Selain itu mereka mampu menempatkan peran dalam masyarakat. Tahap terakhir dari fase perkembangan manusia adalah masa tua (lebih dari 60 tahun). Pada tahap ini, manusia dianggap berada dalam usia kebijaksanaan. Pada tahap ini kebahagiaan muncul dalam suatu flashback ke masa muda, dan biasanya kesukaan masa muda akan kembali sehingga akan melakukan hobi seperti masa muda namun yang tidak menguras energi fisik. Selain itu terdapat berbagai istilah dan definisi atau batasan yang digunakan untuk generasi muda: mulai dari kaum muda, kawula muda, pemuda. Ada beberapa definisi yaitu: 1. Menurut PBB, yaitu anak-anak manusia dari umur 15-24 tahun 2. Menurut Nota Patoral KAS 2009, dari segi usia, orang muda adalah mereka yang usianya di antara 13-35 tahun dan belum menikah. Rentang usia yang panjang ini merupakan masa yang menentukan perkembangan manusia untuk meraih kedewasaan fisik, moral, emosional dan spiritual. 3. Menurut UU Perkawinan RI, tahun 1974, kaum muda meliputi para muda-mudi yang sudah melewati umur kanak-kanak dan belum mencapai umur yang oleh

Page 4
22 UU diperbolehkan untuk menikah, bagi pemuda minimal 19 tahun, dan pemudi minimal 16 tahun. 4. Dalam organisasi pemuda, keanggotaannya dapat mencapai semua orang muda menurut anggaran dasar organisasi untuk menjadi anggota. 5. Di dunia politik, budaya, ekonomi, dan keagamaan, kaum muda adalah mereka yang relatif belum lama bergerak atau berperan penting dalam bidang-bidang tersebut. Dari beberapa pengertian dan batasan tentang kaum muda di atas, maka yang disebut orang-orang muda adalah para muda-mudi yang berumur 13 sampai 20 tahun. Namun untuk penyesuaian yang lebih mudah dalam pembentukan pembinaan orang muda maka usia yang dimaksudkan dalam hal ini adalah usia 15-35 tahun yang mencangkup para muda-mudi dalam usia Sekolah Menengah Atas dan umur studi di Perguruan Tinggi.8 2.1.2. Perkembangan Masa Kaum Muda Pada masa ini ditandai dengan terjadinya berbagai proses perkembangan yang secara global meliputi perkembangan jasmani dan rohani. Perkembangan jasmani dilihat dari perubahan-perubahan bentuk tubuh dari kecil menjadi besar sedangkan rohani tampak dari emosi, sikap dan juga intelektual. Perkembangan pada kaum muda merupakan proses untuk mencapai kemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja. 1. Perkembangan fisik remaja Masa kaum muda diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan terjadi pada sisitem reproduksi. Hormon-hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organ reproduksi untuk
8
Nurhamzah, Astrid. Perkembangan Kaum Muda, Jakarta, 2006, hal 38.

Page 5
23 memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya. Sekitar dua tahun pertumbuhan berat dan tinggi badan mengikuti perkembangan kematangan seksual kaum muda. Anak remaja putri mulai mengalami pertumbuhan tubuh pada usia rata-rata 8-9 tahun, dan mengalami menarche rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja putra mulai menunjukan perubahan tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13 tahun (Katchadurian, 1989). Penyebab terjadi makin awalnya tanda-tanda pertumbuhan ini diperkirakan karena faktor gizi yang semakin baik, rangsangan dari lingkungan, iklim, dan faktor sosio-ekonomi. Selama masa remaja, perubahan tubuh ini akan semakin mencapai keseimbangan yang sifatnya individual. Di akhir masa remaja, ukuran tubuh remaja sudah mencapai bentuk akhirnya dan sistem reproduksi sudah mencapai kematangan secara fisiologis, sebelum akhirnya nanti mengalami penurunan fungsi pada saat awal masa lanjut usia. Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa kaum muda sudah mampu bereproduksi dengan aman secara fisik. Secara fisik, usia reproduksi sehat untuk wanita adalah antara 20 – 30 tahun. Faktor yang mempengaruhinya ada bermacam-macam . Misalnya, sebelum wanita berusia 20 tahun secar fisik kondisi organ reproduksi seperti rahim belum cukup siap untuk memelihara hasil pembuahan dan pengembangan janin. Selain itu, secara mental pada umur ini wanita belum cukup matang dan dewasa. Perawatan pra-natal pada calon ibu muda usia biasanya

Page 6
24 kurang baik karena rendahnya pengetahuan dan rasa malu untuk datang memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan. 2. Perkembangan Psikis Remaja Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai.9 2.1.3. Karakteristik Kaum Muda Karakter dasar dari orang muda adalah ada kemauan berkembang, keberanian untuk bertindak sebagai pembeharu yang original, berbeda dari yang lainnya. Karakter orang muda terbentuk dipengaruhi oleh budaya/ tradisi kolektif, hal-hal yang bersifat hereditas, kebiasaan dalam keluarga, kematangan berpikir dan bersikap dalam keluarga, kematangan berpikir dan bersikap dalam keluarga maupun masyarakat setempat. Kehadiran masyarakat seharusnya dapat menjadi kaum muda yang berkarakter mau berbagi dengan mengikuti kegiatan yang ada di dalam masyarakat. Beberapa macam karakteristik kaum muda adalah sebagai berikut:10 a. Masa Pencarian Masa muda adalah masa pembentukan jati diri, pada masa ini seseorang akan menegaskan identitas, kepribadian dan keunikannya. Maka tidaklah mengherankan, pada masa ini muncul aneka macam pikiran atau tindakan yang seringkali membuat orang lain terkaget-kaget. Proses pencarian ini akan berhenti ketika kaum muda menemukan pijakan yang tepat bagi hidupnya.
9 http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi.htm, diakses tanggal 8 Maret 2012 10
Nurhamzah, Astrid. Perkembangan Kaum Muda, Jakarta, 2006, hal 38

Page 7
25 b. Berkelompok Kaum muda suka berkelompok. Ada aneka macam kelompok hobi yang diikuti oleh kaum muda, seperti komunitas pecinta binatang, dan komunitas pecinta alam. Banyak pula kelompok-kelompok rohani, olah raga, musik, teater, dan diskusi yang terdiri dari orang muda. Kecenderungan berkelompok ini tidak hanya terjadi dalam dunia yang kasad mata, tetapi juga dalam dunia maya dalam bentuk blog komunitas pertemanan. c. Masa Aktualisasi Diri Masa muda adalah masa aktualisasi diri. Serupa tempat air yang sudah penuh, kaum muda ingin membagikan kepada semua apa yang ia punya. Dengan gagah berani, bahkan seringkali tidak memikirkan nyawanya, kaum muda melabrak ketidakberesan- ketidakberesan yang mewujud dalam kemapanan-kemapanan semu. Sebaliknya, serupa juga dengan tempat yang kosong kaum muda selalu mencari pemenuhan diri. d. Gelisah dengan Kemapanan Dalam diri kaum muda, tersimpan segala energi untuk mengubah tatanan dunia menuju suatu idealisme demi kebaikan semua orang. Kemapanan semu menggelisahkan kaum muda dan memunculkan keperhatinan yang kemudian melahirkan keterlibatan. Sejarah Indonesia mencatat kaum muda sebagai penggugat kemapanan yang tidak mencerminkan keadilan dan kebenaran, misalnya pada tahun 1998 mahasiswa turun ke jalan, berdemonstrasi menggugat kemapanan semu Orde Baru dan melahirkan Orde Reformasi. e. Inspiratif Kaum muda kaya dengan ide-ide segar dan inspiratif, sekalipun sering mengagetkan, namun bila ini disikapi dengan arif dan ada ruang untuk mewujudkannya, ide ini akan berkembang menjadi inspirasi yang menggugah, menggerakkan dan mengubah. f. Spontan Kaum muda spontan dan tanggap terhadap situasi, khususnya masalah kemanusiaan. Spontanitas tersebut tetap terjaga dan mewujud dalam aneka macam bentuk, misalnya ketika terjadi gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tahun 2006 serta

Page 8
26 banjir di daerah Solo dan sekitarnya pada bulan Desember 2007, banyak kaum muda spontan menjadi relawan untuk menolong para korban. g. Kokoh dalam prinsip Kaum muda seringkali dipandang bersikap keras kepala, namun secara positif hal itu dapat dipandang sebagai keteguhan kaum muda dalam berprinsip dan ketekunannya dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi kesejahteraan semua orang. h. Dinamis dan kreatif Dunia kaum muda adalah dunia yang selalu bergerak. Mereka bergerak untuk menemukan tempat berlabuh yang sesuai. Maka tidak mengherankan bila seringkali pelabuhan ini tidaklah panjang waktunya, sementara sampai ditemukan tempat berlabuh yang lebih nyaman dan menyejukkan hati. Pelabuhan itu dapat berupa kawan, organisasi, tempat kerja, pendidikan, dan calon pasangan hidup. Di satu sisi dinamika ini dapat membawa mereka pada situasi ambang dan membawa kekhawatiran pada orang yang menyaksikan. Di sisi lain situasi itu memberi ruang positif pada pertumbuhan kreativitas kaum muda dalam mengelola sejarah hidupnya. Bantuan yang memadai akan memampukan kaum muda merangkai serpihan-serpihan kreatifitas itu menjadi kristal-kristal pemahaman yang membangkitkan daya hidup dan menggerakkan kehidupan menuju kesejahteraan bersama. Pada saatnya mereka akan siap menjadi pemimpin kehidupan. i. Berhasrat akan Nilai-Nilai Ideal Banyak orang yang mengatakan bahwa kaum muda selalu bersikap idealis. Sikap ini selalu dipandang secara negatif, karena mereka hanya berhenti pada tataran ide, tidak realistis. Namun justru idealism inilah yang membuat kaum muda berani bermimpi atau bercita-cita. Tak jarang sebuah penemuan dan penggerak yang membawa perubahan diawali oleh mimpi. Idealism itu janganlah dipatahkan tetapi dikembangkan sampai suatu tindakan yang membawa perubahan dalam masyarakat. j. Saat Pembelajaran Masa muda adalah masa yang paling baik untuk mendapatkan dan menyerap aneka macam pendidikan. Dalam masa inilah kaum muda belajar merasakan, melihat, mengalami dan melakukan sesuatu, sehingga nalar, gerak hidup dan hati mereka bertumbuh dengan baik. Semakin baik dan benar pendampingan yang diperoleh,

Page 9
27 kaum muda akan bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana. Untuk itu, perlu tersedia fasilitas pendidikan formal dan non formal, yang berkualitas dan didukung oleh orang-orang yang openuh dengan dedikasi. Pendidikan yang bermutu akan memberi ruang yang kondusif bagi kaum muda untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang dewasa dan mampu menyikapi dunianya dengan bijaksana.11 2.1.4. Faktor Pembentukan Karakteristik Kaum Muda Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan karakteristik kaum muda yaitu antara lain:12 a. Lingkungan keluarga Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat, atau suatu organisasi bio-psiko sosio spiritual dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukan sifatnya yang statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain. Keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi dan masyarakat sehingga kemajuan seseorang ditentukan pula oleh pembinaan anak dalam keluarga. Dalam keluarga Katholik bagian utama yang paling penting adalah iman. Iman merupakan bagian terpenting dari Gereja. Iman dalam keluarga Katholik akan memberikan kehangatan untuk hidup umat Kristiani dan mendorong mereka kepada semangat pengabdian. Dalam hal ini iman perlu dibangun terus menerus sehingga membawa kehangatan, kedamaian dan kesejahteraan dalam keluarga.13 Pada saat ini lingkungan keluarga juga merupakan unsur penting dan paling mendasar bagi pembentukan dan perkembangan kaum muda itu sendiri. Lingkungan keluarga yang baik, harmonis, dan memiliki keterbukaan dari setiap anggota keluarga akan mencapai tahap keberhasilan dalam membentuk kaum
11
Brtoalit. Permainan Pembinaan Orang Muda, Yogyakarta, 2009.
12
Nurhamzah, Astrid. Perkembangan Kaum Muda, Jakarta, 2006, hal 38
13 Purwawidyana, J. Ch. Faktor Perkembangan Kaum Muda, 1981.

Page 10
28 muda yang memiliki kepribadian yang matang, dewasa, bijaksana dan bertanggungjawab. Demikian sebaliknya jika lingkungan keluarganya tidak baik, tidak harmonis, tidak adanya komunikasi dan keterbukaan yang baik dari setiap anggota keluarga, sering terjadi konflik dan pertengkaran, maka akan terbentuk kaum muda yang tidak bertanggung jawab, kurang memperhitungkan masa depan, bahkan kaum muda itu sendiri akan merasa kebingungan dalam mencari pegangan hidup, merasa sudah tidak mendapat tempat untuk berpijak dan cenderung akan melakukan perbuatan yang dapat meresahkan masyarakat. Lingkungan keluarga yang baik dan ideal sebaiknya dapat menjadi suatu komunitas hidup bagi setiap pribadi yang mendiami atau menghuninya. Dengan demikian karena vitalnya sebuah kehidupan keluarga maka keluarga bertanggungjawab terhadap proses kelangsungan setiap pribadi. Hal ini dapat terlihat kalau pembentukan pribadi bagi kaum muda sendiri dalam setiap lingkungan keluarga mendapat tempat dan kedudukan yang utama, dimana keluarga yang harmonis, rukun, damai dan tenteram dapat menjadi teladan bagi setiap anggota keluarga, bagi keluarga yang lain dan bagi lingkungan masyarakat disekitarnya. b. Lingkungan sekolah Dewasa ini di mana dikatakan lingkungan sekolah dikatakan sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat, minat dan menciptakan kemampuan berketerampilan setra menemukan daya kereativitas belum sepenuhnya terwujud. Hal ini menunjukan bahwa lingkungan sekolah tidak cukup hanya sebagai komunitas studi semata, sekolah juga harus mampu memberikan tempat yang nyaman bagi semua murid yang ingin belajar mencari identitas diri dan mengembangkan seluruh kemampuan atau potensi yang ada dalam dirinya sendiri. Sekolah merupakan tempat pendidikan formal yang mempunyai peranan yang untuk mengembangan kepribadian anak sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan untuk melaksanakan tugas di masyarakat. Selain itu di sekolah, seseorang mendapat pendidikan untuk mencapai pada tahap proses pembentukan

Page 11
29 pribadi yang matang, dewasa, mandiri dan bertanggung jawab. Karena pada dasarnya pendidikan merupakan hak setiap pribadi manusia dan hal itu tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Tujuan di atas dapat tercapai dan berhasil kalau guru mampu mendorong dan mengarahkan para murid untuk belajar mengembangkan kereativitas pengetahuan dan keterampilan. Selain itu antara guru dan murid juga harus saling mampu untuk bekerjasama, mampu menjalani hubungan yang baik, saling mempercayai untuk belajar bersama. Pendidikan adalah bidang yang harus diutamakan karena pendidikan sendiri menjadi masalah yang sangat kompleks dan menyangkut kehidupan untuk masa depan. Pendidikan nasional bersifat terbuka maka sekolah pun sebagai tempat peserta didik menuntut ilmu dan mengembangkan potensi diri, diharapkan mampu mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang berkualitas. Peningkatan kualitas manusia ini tercermin dari bagaimana manusia itu dapat semakin beriman, memiliki kepribadian yang matang, dan memiliki tanggung jawab baik jasmani maupun rohani. Dalam hal ini sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam mendidik setiap pribadi peserta didik agar semakin tangguh dalam menghadapi realita kehidupan sekarang ini dan untuk masa yang akan dating secara bertanggung jawab. c. Lingkungan gereja Lingkungan gereja sebagai komunitas jemaat beriman, harus mampu menjadi daya tarik agar anggotanya dapat kerasan untuk menghuninya. Untuk itu gereja perlu member perhatian khusus kepada kaum muda agar turut serta masuk dalam kesatuan dengan Kristus. Kaum muda sendiri sebagai salah satu bagian dari anggota jemaat beriman perlu menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah anggota gereja, maka kaum muda dengan segala kerendahan hati hendaknya dapat melebur diri dalam kesatuan dengan Kristus. Persekutuan dengan Kristus akan membawa dampak yang luar biasa bagi perkembangan dan pertumbuhan hidup rohani atau spiritual kaum muda dalam kehidupan sehari-hari. Jalinan kesatuan gereja dengan kaum muda tampak

Page 12
30 nyata dalam setiap kegiatan hidup menggereja yang ada. Kaum muda sendiri dengan segala kemampuan usaha untuk turut terlibat dalam setiap momen kegiatan yang diselenggarakan oleh gereja, salah satu contoh konkrit dalam hidup liturgis gereja kaum muda terlibat secara langsung menjadi petugas dan pelayan dalam kegiatan liturgis tersebut misalkan; menjadi dirigen, pembawa mazmur, menjadi lektor, tergabung dalam paduan suara atau koor dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa kaum muda memperhatikan keberadaan dan kepentingan gereja. Kaum muda tidak hanya diam dan berpangku tangan saja, melainkan berani untuk ambil bagian dalam mempersatukan jemaat beriman Kristiani sebagai sebah kesatuan yang utuh. d. Lingkungan masyarakat Lingkungan masyarakat dalam hal ini merupakan alat kontrol dalam pergaulan hidup kaum muda, mengingat berkembang pesatnya IPTEK (Ilmu dan Teknologi) sehingga membawa perubahan-perubahan yang sangat berarti bagi masyarakat sekarang ini. Dampak dari perubahan itu menimbulkan pengaruh yang positif dan negatif baik bagi kaum muda maupun masyarakat itu sendiri. Pengaruh positif ini dapat dirasakan masyarakat dalam menerima segala informasi dengan mudah melalui internet, mengakses data lewat computer, mendapatkan hiburan melalui media masa dan elektronika. Sedangkan pengaruh negatifnya dapat mengakibatkan orang semakin lupa diri, terlalu egois, tidak memiliki kepekaan sosial, tidak bias menempatkan diri bagaimana semesstinya, dan bahkan memiliki orientasi hidup tidak peduli dengan sesama. Kaum muda merupakan bagian dari anggota masyarakat ini artinya masyarakat juga ikut ambil bagian dalam mempengaruhi kehidupan kaum muda. Apabila lingkungan masyarakat memiliki kebiasaan yang baik misalnya; adanya saling menghormati, menghargai, menyayangi, teratur dalam hidup beragama dan bermasyarakat maka maka akan berpengaruh baik pada perkembangan hidup kaum muda. Demikian sebaliknya jika lingkungan masyarakatnya memiliki kebiasaan yang buruk akan menghancurkan perkembangan hidup kaum muda itu

Page 13
31 sendiri. Hal ini menunjukan bahwa seberapa vitalnya lingkungan masyarakat dalam menentukan perkembangan dan pertumbuhan kaum muda yang ada di dalamnya. Kaum muda yang saat ini sedang mencari pegangan hidup dan identitas diri memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk menekuni bidang yang disukai sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan demikian kesabaran, keterampilan, keuletan serta kecekatan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengarahkan pembentukan hidup kaum muda menjadi manusia yang bermutu dan berkualitas. e. Psikologi Pribadi Kaum Muda Psikologi menurut Woodworth dan Marquis adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya. Karena mental kaum muda yang masih tergolong labil dengan didukung keingintahuan yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbilkan.14 2.1.5. Karakter Interaksi Kaum Muda Kaum muda dalam hal ini merupakan kaum muda yang termasuk dalam remaja madya (middle adolescence) dan remaja akhir (late adolescence) yaitu yang berusia 15-24 tahun. Kaum muda ini memiliki karakter tersendiri dalam berinteraksi sosial yaitu: 1. Teman-teman sesama remaja memegang peranan utama dalam interaksi sosial remaja, sehingga tidak jarang sampai terjadi ikatan emosional yang kuat diantara mereka. 2. Remaja cenderung memiliki sifat senang berkumpul/berkelompok dengan sesamanya, suasana ramai, santai dan tidak terikat 3. Mulai berusaha untuk bergaul dan mengenal lebih dekat lawan jenis seusianya 4. Kecenderungan untuk bertindak ekstrim baik secara individu maupun berkelompok untuk menunjukkan eksistensinya pada masyarakat umum
14 Lestari. Weni. Membangun Karakter Kaum Muda, Jambi, 2011, hal 32.

Page 14
32 5. Dalam interaksi sosial, mereka memiliki tujuan yang sama-sama mengarah pada pengembangan diri/memperluas wawasan dan pengalaman hidup 6. Dalam proses interaksi sosial walaupun mereka cenderung terbuka pada hal-hal baru dan masyarakat umum tetapi tetap menginginkan penghargaan terhadap privasinya 2.1.6. Perkembangan Kaum Muda di Jaman ini Salah satu ciri masyarakat Indonesia, termasuk di Yogyakarta dimana sebagian besar kaum muda adalah masyarakat transisi yang sedang beranjak dari keadaannya yang tradisional menuju kepada kondisi yang lebih modern. Hanya sebagian kecil kaum muda, yaitu yang tinggal di masyarakat yang belum terjangkau prasarana komunikasi (misalnya di kalangan suku terasing, atau di pedesaan yang terisolir), yang masih hidup di alam yang benar-benar masih tradisional. Sebagian besar kaum muda yang lain, apalagi yang tinggal di kota-kota besar, sudah jelas harus berhadapan dengan masyarakat yang sedang dalam keadaan transisi. Kaum muda transisi ini dinamakan modernizing society. Kaum mudat seperti ini berbeda dari (masyarakat tradisional) dan modern society (masyarakat modern). Dikatakannya bahwa tradition oriented society cirri kaum muda tradisional adalah mencoba mengekalkan nilai-nilai dari masa lalunya ke masa depan dengan cara mempraktekkan terus adat istiadat, upacara-upacara dan kebiasaan yang sudah berlaku sejak jaman nenek moyang mereka. Beberapa pengertian yang lain, kaum muda transisi adalah masyarakat yang sedang mencoba untuk membebaskan diri dari nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus menerus membuat nilai-nilai baru atau hal-hal baru. Dalam kaum muda skarang ini, teknologi juga merupakan hal yang baru, yang mulai dikenal masyarakat walaupun bukan langsung merupakan hasil ciptaan sendiri. Bersamaan dengan itu adat –istiadat yang berhubungan dengan hubungan pria-wanita, misalnya, mulai ditinggalkan orang dan digantikan dengan tata cara yang lebih bebas, sesuai dengan kondisi yang berlaku sekarang dan di masa depan. Bergesernya tatanan kaum muda disebabkan antara lain oleh teknologi itu sendiri yang pada hakikatnya mengandung sifat menimbulkan masalah pada

Page 15
33 lingkungannya jika digunakan secara meluas. Kaum muda tidak dapat mengubah dirinya dengan cepat untuk mengimbangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh teknologi. Keadaan kaum muda yang termasuk dalam masyarakat transisi ini akan membawa individu anggota masyarakat kepada keadaan anomie. Anomie menurut Durkheim adalah normlessness yaitu suatu sistem sosial di mana tidak ada petunjuk atau pedoman buat tingkah laku. Kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang biasa berlaku tiba-tiba tidak berlaku lagi. Akibatnya adalah ��Individualisme�� di mana individu-individu bertindak hanya menurut kepentingannya masing-masing . Kondisi anomie ini tentu saja sangat berpengaruh kepada kehidupan kaum muda. Salah satu bukti tentang adanya kondisi anomie ini di kalangan kaum muda adalah dalam segi kehidupan seksual yang diungkapkan dalam sebuah penelitian di Muangthai. Dalam tingkat 11 % dari penduduk negara tersebut berusia antara 15-19 tahun, tetapi dari survey yang dilakukan terhadap mereka tenyata 45% tidak mengetahui tentang proses terjadinya haid dan 68 % tidak dapat menyebutkan bagaimana caranya untuk mengetahui adanya kehamilan (ICARP, 1980). Keadaan serba tidak tahu seperti ini banyak terjadi di negara-negara berkembang atau dalam masyarakat transisi. Hal tersebut dapat mempengaruhi kehidupan kaum muda yang selalu bergejolak di masa transisi perkembangan karakter mereka. Mereka tidak banyak mengetahui tentang keadaan dirinya sendiri, mereka harus berhadapan dengan perubahan pola kehidupan seperti penundaan usia perkawinan, pergaulan yang lebih bebas, dan sebagainya. Kaum muda menjadi tidak mempunyai petunjuk atau pedoman yang jelas tentang bagaimana caranya untuk bertindak secara benar dalam menghadapi masalah. Seorang ahli psikologi, R.K. Merton mengembangkan lebih lanjut gagasan Durkheim. Merton mengatakan bahwa keadaan anomie memang berawal dari suatu situasi sosial (kondisi objektif), tetapi Merton selanjutnya menyatakan bahwa anomie juga menunjuk kepada manusia yang ��ambivalent (tidak jelas nilai yang dianutnya)

Page 16
34 dan ��ambiguous�� ( tidak jelas bentuk kelakuannya) dalam masyarakat yang juga tidak konsisten (Merton, 1957).15 2.2. Tinjauan Retret 2.2.1. Sejarah Perkembangan Retret Santo Ignatius dari Loyola memberi makna retret sebagai latihan rohani. Baginya latihan rohani adalah setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segela rasa lekat tak teratur, dan selepas itu lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata untuk keselamatan jiwa kita, yaitu setiap cara memeriksa hati, meditasi, kontemplasi, doa lisan atau batin, dan segala kegiatan rohani lainnya. Kegiatan rohani merupakan inti dari latihan rohani. Kegiatan jasmani lainnya yang dapat mendukung kegiatan rohani menurut Santo Ignatius seperti puasa, mengendalikan indera, dan mengatur hidup harian sesuai dengan kebutuhan latihan rohani. Secara lebih bebas retret juga didefinisikan sebagai waktu istirahat dari studi dan urusan sehari-hari, tetapi juga waktu untuk sungguh- sungguh berdoa karena retret adalah berahmat luar biasa. Mengingat istilah retret cenderung membebani, ada banyak istilah lain yang lebih ringan maknanya. Thomas Green memperkenalkan istilah Vacation with The Lord (berlibur bersama Tuhan). Berlibur bersama Tuhan berarti menggunakan waktu serileks mungkin agar dapat menikmati kegembiraan bersama Tuhan sebagaimana dalam sebuah liburan, kita meninggalkan apapun yang bersifat rutin. Kemudian, kita mengerjakan hal-hal yang menyenangkan dengan melupakan sejenak tuntutan tugas dan kewajiban. Perjalanan retret sampai sekarang ini semakin berkembang, karena kesibukan masing-masing retret jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Latihan rohani atau retret pada umumnya hanya dilaksanakan oleh para seminaris, romo, suster, dalam berbagai komunitas rohaniawan. Oleh sebab itu perkembangan retret semakin masuk dalam kehidupan kaum muda melalui kegiatan-kegiatan rohani yang direncanakan oleh gereja ataupun sekolah mereka.
15
Nurhamzah. Absurditas Manusia Modern: Sebuah Rekonstruksi Spiritual Manusia Modern, Jakarta : Penerbit Erlangga, 2009, hal 12.

Page 17
35 Kegiatan Retret pada masa sekarang ini, tidak hanya dilaksanakan oleh para calon imam, seminaris, imam dan suster akan tetapi dilaksanakan juga untuk pembinaan kaum muda, sehingga mereka dapat menemukan jati diri mereka serta mendekatkan jiwanya kepada Tuhan, lewat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam retret. Perpaduan karakter pada kaum muda yang mempunyai sifat atraktif, dinamis, senang mencari hal baru, cepat mengalami kejenuhan, dan jarang berdoa. Hal tersebut memerlukan metode retret dengan kegiatan-kegiatan yang dapat mengajak para retretan menyelami retret dengan penuh suka cita, serta ruang yang dapat mewadahi kegiatan retret tersebut.16 2.2.2. Pengertian Retret Retret merupakan salah satu kegiatan rohani yang dilakukan oleh suatu agama untuk membina dan meningkatkan iman dalam diri stiap umat. Dalam retret banyak rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan teratur dalam bidang rohani seperti berdoa, pemeriksaan batin, mengadakan refleksi, membuat renungan, bermeditasi. Retret dapat memberikan keheningan sehingga dalam keheningan orang merasakan kelegaan.17 Retret dapat didefinisikan menjadi beberapa macam yaitu deskripsi retret menurut R.S. Sarto Pandoyo, SI, menurut arti kata dan menurut arti sebenarnya. 2.2.2.1. Menurut R.S. Sarto Pandoyo, SJ Deskripsi Latihan Rohani atau Retret: Latihan Rohani (Retret) bukan pembaharuan teologi atau suatu ��pembenahan diri sendiri�� (plagian of shaping my self), atau membuka penutup yang kaku dan kuat terkunci, atau saat hening untuk berdoa, dan juga bukan usaha untuk membuat diriku tetap up to date. Latihan Rohani adalah perkembangan dinamis cinta Tuhan yang berkarya pada manusia, dimana iman memenuhi hati, dengan
16 Nugroho Widiyono, A. Majalah Retret Tahunan, No. 65, Tahun ke-54, Mei 2009, Yogyakarta, hal 56. 17 Sumantri, Y, SJ. Akar dan Sayap, hal.11, Kanisius Yogyakarta, 2001,hal 21.

Page 18
36 perkataan lain Latihan Rohani ialah mengambil serius cinta Allah pada kita. Latihan Rohani adalah usaha untuk menemukan identitas diri dalam wahyu Tuhan, seperti Peters mengatakan: ��hakekat Latihan Rohani adalah bahwa Tuhan bekerja dalam dan dengan retretan yang ingin mengetahui lebih mendalam, menikmati, mencecap, dan menghayati kebenarannya dihadapan Tuhan�� Tiap-tiap minggu dalam Latihan Rohani adalah perkembangan dinamis yang terus maju, yang dinyatakan secara khusus pada rahmat dan wawancara dari berbagai meditasi dan kontemplasi dalam Latihan Rohani, yaitu: a. Berdoa untuk hal-hal yang sungguh-sungguh diinginkan, yang muncul dari inti kepribadian kita yang terdalam. b. Menemukan diri sendiri dengan berhubungan dengan keinginan hati yang terdalam, yang di anugerahkan Tuhan pada kita. c. Belajar membiarkan cinta Tuhan mengatur (desiplinized) diri kita, untuk mencapai ketenangan dan spontanitas Roh. Kata retret dalam bahasa Perancis yaitu La Retraite yang berarti pengunduran diri, menyepi, menyendiri, menjauhkan diri dari kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Indonesia retret yang memiliki arti mengasingkan diri ke tempat sunyi. 2.2.2.2. Menurut Arti Kata Kata retret berasal dari bahasa Inggris, ��retreat��. Menurut Kamus Inggris-Indonesia yang disusun oleh John M. Echols dan Hassan Shadily, salah satu arti retreat adalah tempat pengasingan diri. Sebagai kata kerja, retreat berarti mundur. Retret berarti kita mundur dari kesibukan sehari-hari meninggalkan dunia ramai dengan pergi ke tempat sunyi untuk mengasingkan diri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, retret dikenal dengan sebuatan ��khaiwat�� yang memiliki arti mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin. Jadi, kata retret mengandung

Page 19
37 pengertian yang menunjuk pada tempat atau gerak yang menuju pada kesunyian atau keheningan.18 Retret adalah kesempatan untuk menarik diri dari kesibukan sehari- hari, belajar mengolah hidup rohani, sehingga kita bisa menyadari diri menemukan jati diri, dan mengenal diri kita lebih jauh, juga mengenal Tuhan dan sesama. Kesadaran diri dalam kaitan relasi dengan Tuhan dan sesama inilah yang menjadi modal awal pegangan atau prinsip hidup kita selanjutnya. Mungkin akan ada penguatan, teguran, pembaharuan, penyegaran, dsb, melalui retret. Melalui bimbingan retret keluarga kristiani dapat mengenal makna dan tujuan retret yang sesungguhnya. Retret juga memiliki manfaat agar setiap peserta kegiatan retret dapat merasakan kebaikan Yesus yang telah berkorban di kayu Salib. Salib merupakan tonggak utama yang dijadikan sebagai pedoman dalam pembinaan kaum muda di Rumah Retret Kaum Muda. Salib merupakan simbol dari agama Kristen sebagai perwujudan dari pengorbanan Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia. Beberapa makna yang terkandung pada Salib adalah sebagai berikut: 1. Kemenangan Dari sudut pandang agama Katholik, kemenangan dapat dilihat dari peristiwa Yesus di Salib yang dapat memberi dampak kepada kehidupan manusia di dunia ini. Manusia bisa mendapatkan kemenangan di dalam kehidupan mereka. Kemenangan ini merupakan suatu hal yang lebih maju, lebih beruntung, dan lebih lainnya yang didapati oleh manusia yang telah didapat pengorbanan Yesus di kayu Salib. 2. Keselamatan Keselamatan menurut Perjanjian Lama, mempunyai unsur-unsur baik yang tertuju kepada manusia maupun yang tertuju kepada Allah. Pada saat manusia terancam bahaya penyakit, musibah fisik, penganiayaan oleh lawan dan kematian, keselamatan yang dimaksud adalah manusia dibebaskan dari ancaman penyakit dan musibah.
18 Sumantri, Y, SJ. Akar dan Sayap, hal.11, Kanisius Yogyakarta, 2001, hal 32.

Page 20
38 Alat-alat keselamatan, langsung atau tidak langsung, disediakan melalui para Bapa leluhur, hakim, pemberi hukum, imam, raja dan nabi. Hukum, baik bersifat ritual maupun moral, akibat dosa manusia, tidak mampu memberikan keselamatan yang penuh, tapi menunjukkan ciri dan tuntutan Allah dan kondisi kesejahteraan manusia. Keselamatan disediakan sebagai anugerah dari Allah yang adil, yang berbuat dalam rahmat kepada orang-orang berdosa yg tidak layak. Orang- orang berdosa yang oleh anugerah iman, percaya kepada keadilan Kristus yang sudah menebus dia dengan kematian-Nya dan membenarkan dia oleh kebangkitan-Nya. Allah, demi Kristus, Kristus akan membenarkan orang- orang berdosa yg tak layak itu (yaitu memperhitungkan baginya keadilan Kristus yang sempurna), mengampuni dosa-dosanya, mendamaikan dia dengan diri-Nya sendiri di dalam dan melalui Kristus yang sudah 'membuat perdamaian melalui darah salib-Nya' (2 Korintus 5:18; Roma 5:11; Kolose 1:20), mengangkatnya menjadi keluarga-Nya (Galatia 4:5 dab; Efesus 1:13; 2 Korintus 1:22). memberinya meterai, kesungguhan, dan buah sulung dari RohNya di dalam hatinya, dan dcngan demikian menjadikannya makhluk baru.
3. Perdamaian
Dalam studi perdamaian, perdamaian dipahami dalam dua pengertian. Pertama, perdamaian adalah kondisi tidak adanya atau berkurangnya segala jenis kekerasan. Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non- kekerasan. Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perdamaian adalah apa yang kita miliki ketika transformasi konflik yang kreatif berlangsung secara tanpa kekerasan. Perdamaian selain merupakan sebuah keadaan, juga merupakan suatu proses kreatif tanpa kekerasan yang dialami dalam transformasi (fase perkembangan) suatu konflik. Damai dapat juga berarti sebuah keadaan tenang, seperti yang umum di tempat-tempat yang terpencil, mengijinkan untuk tidur atau meditasi. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari definisi-definisi di atas.

Page 21
39 Contohnya, di Wilayah Danau Besar Afrika, kata damai adalah kindoki, yang menunjuk kepada keseimbangan yang harmonis antara manusia, dan dunia alam lainnya, dan juga kosmos. Pandangan ini lebih luas dari damai yang berarti "ketiadaan perang" atau bahkan "kehadiran keadilan".19 Gambar 2.1. Danau Mapourika, Selandia Baru Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Damai 2.2.2.3. Menurut Arti yang Sebenarnya Bagi kita umat kristiani arti retret adalah sarana melatih diri secara rohani. Latihan (exercita) rohani ini dilakukan secara khusus untuk memperdalam dan memperbaharui harapan dan cinta kasih kristiani.20 Yakni, pendalaman dan pembaharuan tersebut untuk mencari kehendak yang Ilahi, khususnya dalam keputusan yang penting. Maksudnya yaitu untuk menyadari dan menanggapi panggilan hidup kita di dunia ini. Biasanya, retret dilakukan dengan cara mengasingkan diri atau menarik diri ke tempat yang hening. Cara pengasingan diri ini dilakukan supaya kita dapat berpikir, merenung, dan berdoa dengan baik. Cara pengasingan diri semacam ini dapat membantu kita untuk berpikir akan pengalaman hidup kita. Kita melihat perjalanan hidup kita, kita perlu berpikir
19
Sugihono, Benijanto, Pdt. Apa Kabar Salib Hari Ini, Jakarta : Penerbit Metanoia
20 Yohanes Hadinata, Menyelami Retret Kaum Muda, 2004, Yogyakarta, hal 24.

Page 22
40 akan arah hidup kita. Maka, perlulah kita secara khusus merenungkan segala perjalanan yang telah kita lalui, dalam perenungan-perenungan yang kita lalui, kita dapat melihat diri. Segala tindakan kita dalam berpikir dan merenung haruslah dilandasi dengan doa supaya kita selalu dibimbing dalam perenungan hidup kita sehingga dapat menghasilkan arah tujuan hidup kita selanjutnya. Retret merupakan sarana atau masa yang baik bagi kita untuk mengevaluasi diri kita secara khusus. Dalam masa ini kita dapat menemukan identitas kita, Tuhan, dan sesama. Suasana hening, jauh dari keramaian akan memberi kita ketenangan batin. Ketenangan batin ini, mendukung kita untuk semakin menghayati perjalanan hidup kita. Hal ini akan didukung oleh hal- hal yang berkaitan dengan retret itu sendiri. Misalnya: doa, sharing, ceramah, diskusi, renungan dan sebagainya. 2.2.3. Tujuan Retret Dalam retret sebagai usaha untuk mengadakan perubahan hidup itu, proses retret kerap dilukiskan seperti berikut: retret bermula dari hal-hal yang tidak baik, deformata menuju ke perbaikan. Hal-hal yang sudah diperbaiki, reformata, kemudian diarahkan, transformata, oleh penerangan dan kekuatan yang diperoleh dalam doa- doa selama retret. Kegiatan dalam retret dilakukan secara teratur dan sistematis misalnya dalam kegiatan rohani, seperti berdoa, renungan, membuat pemeriksaan batin, mengadakan refleksi. Retret sebagai kesempatan untuk mengundurkan diri dari aktivitas dan kejenuhan sehari-hari, seringkali membantu orang untuk mendapatkan keheningan, karena dalam keheningan itulah orang bisa mendapat ketenangan dan kelegaan. Pembinaan dalam retret sering kali dapat membantu orang menemukan lambang diri. Lambang diri diperlukan oleh kaum muda yang sedang berkembang untuk menemukan jati diri, dan juga membimbing orang tua untuk mendidik anak-anaknya agar dapat memahami makna hidup yang umumnya sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Page 23
41 Pandangan klasik mengatakan bahwa retret dilakukan bertujuan untuk bertemu dengan Tuhan. Lalu timbul pertanyaan apakah kita tidak dapat menemukan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari kita? Apakah Tuhan hanya dapat ditemukan di tempat sunyi saja? Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan Tuhan, melalui pengalaman-pengalaman yang lebih khusuk hanya terjadi di dalam kesunyian. Di mana dalam kesunyian tersebut, kita dapat bertemu Tuhan lebih dekat. Maka, tujuan retret secara umum adalah menyadari kehadiran Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari sehingga kehidupan itu dapat dipahami maknanya. 21 Selain itu, retretan melaksanakan retret bertujuan untuk memperoleh ketenangan batin. Ketenangan batin memberi kita akan kesadaran peranan Allah di dalam hidup kita. Dengan retret, kita dapat menggali hal-hal atau peristiwa masa lalu yang sekarang dapat dirasa sangat berguna dalam perkembangan hidup kita. Pada dasarnya, retret merupakan solusi untuk mengembalikan iman yang sedang mengalami krisis (desolasi). Mengasingkan diri bukan hanya ciri khas umat kristiani melainkan manusiawi untuk mendapatkan keheningan. Praktek ini diinspirasikan oleh teladan Yesus yang berdoa di padang gurun sebelum memulai tugas penutusan-Nya (Mat 4:1-11). Para rasul bertekun dalam doa menantikan karunia Roh Kudus selama sembilan hari ( Kis 1: 13-14). Teladan Yesus memberikan pandangan baru mengenai pengasingan diri. Pengasingan diri dilakukan untuk menyadari kehadiran Tuhan lebih intensif dan pribadi. Hal ini dapat kita temukan melalui keheningan. Keheningan merupakan alat bagi kita untuk dapat lebih merasakan kehadiran Allah dalam diri kita. Proses retret itu dapat diibaratkan dengan proses pernapasan kita. Kita menghirup dan mengeluarkan udara. Dalam pernapasan tersebut, kita mengasimilasikan zat asam serta mengeluarkan zat-zat yang meracuni. Jiwa harus tenang dan damai sehingga dapat merasakan kesatuan dengan Tuhan, alam, dan sesama. Lalu, kita mengekspresikan perasaan-perasaan hati melalui pertanyaan, sharing, persoalan, dan emosi yang menghambat sehingga kita dapat memperoleh kelegaan. Dari proses pengolahan ini kita dapat memilih tujuan hidup
21 Mangunhardjana, AM, SJ. Membimbing Rekoleksi, Kanisius Yogyakarta, 1994, hal 89.

Page 24
42 tertentu. Tujuan tersebut menjadi langkah atau anak tangga yang abadi menyatu dengan Allah. Hasil yang diharapkan muncul setelah melaksanakan kegiatan retret yaitu: 22
A. Di bidang kepribadian:
1. Mampu mengenal dan menerima diri dengan segala kekuarangan dan kelebihannya. 2. Mampu menemukan identitas diri, memiliki gambaran diri yang sehat dan mempunyai kepercayaan diri serta harga diri yang seimbang. 3. Mampu mengenal, mengolah dan mengarahkan segala perasaan hati yang positif dan negatif yang muncul dalam hati mereka. 4. Mampu mengenal, menjernihkan, dan mengembangkan motivasi, cita- cita dan idealism hidup. 5. Mampu mengenal dan mengembangkan potensi diri secara maksimal dan ke arah yang tepat. 6. Mampu mengenal dan mengembangkan perilaku, cara dan gaya hidup yang produktif.
B. Di bidang kebersamaan dengan orang lain:
1. Mampu memiliki pandangan yang sehat tentang orang lain. 2. Mampu berkenalan, bertemu, menerima, dan bergaul dengan orang lain tanpa pandang bulu 3. Mampu memiliki kepekaan terhadap orang lain. 4. Mampu menciptakan dan membina kebersamaan dan kerjasama dengan orang lain sebagai tempat untuk mengembangkan diri.
C. Di bidang peran dalam masyarakat, bangsa dan dunia:
1. Mampu memiliki pengetahuan tentang masyarakat, bangsa dan dunia yang memadai, dan membentuk pandangan yang seimbang tentang masyarakat, bangsa dan dunia.
22 Sumantri, Y, SJ. Akar dan Sayap, hal. 11, Kanisius Yogyakarta, 2002,hal 13.

Page 25
43 2. Mampu memiliki pengetahuan, pandangan, kecakapan dan sikap kerja yang benar dan memadai. 3. Mampu memiliki pengetahuan, kecakapan dan sikap kerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dalam rangka hidup bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa. 4. Mampu memiliki pengetahuan, kecakapan, dan sikap dalam bidang manajemen dan kepemimpinan yang benar dan memadai, sehingga mampu hidup secara produktif dalam tingkat hidup pribadi, masyarakat, negara, bangsa, dan dunia. 2.2.4. Macam dan Bentuk Retret Terdapat beberapa macam retret yang terbagi atas bentuk, kategori peserta, dan jumlah peserta retret, dan lain-lain. Hal ini berpengaruh pada lama retret dan cara penyampaian retret.23 2.2.4.1. Berdasarkan bentuknya, retret terbagi atas: a. Retret Tradisional: bentuk retret yang paling lazim dilaksanakan di Indonesia, dengan beberapa tambahan variasi bila diperlukan. Acara retret terdiri dari masukan pembimbing, para peserta yang lebih berperan sebagai pendengar, ibadat, dan devosi. Dilaksanakan di tempat yang hening, meski tingkat keheningan dapat berbeda-beda sesuai dengan acara dan juga sikap dari peserta itu sendiri. b. Retret dengan Bimbingan Pribadi : retret dimana peserta yang lebih aktif sejauh mendapat tugas khusus yang dilaksanakan dengan bimbingan pribadi yang bertujuan untuk kemajuan kehidupan rohani peserta retret. c. Retret Gaya Civita : retret yang lazim dilaksanakan di Wisma Civita, Keuskupan Agung Jakarta, bagi peserta remaja kota besar. Salah satu unsur yang paling menonjol adalah adanya luapan emosional peserta yang cukup besar.
23 Mangunhardjana, AM, SJ. Membimbing Rekoleksi, Kanisius Yogyakarta, 1994,hal 34.

Page 26
44 d. Camping Retreat: pembinaan yang dikombinasikan dengan rekreasi di alam terbuka, khususnya bagi anak-anak dan kaum muda. e. Retret Kontekstual: retret yang isinya paling sesuai dengan keadaan, kebutuhan, dan harapan peserta retret . 2.2.4.2. Retret Berdasarkan Umur a. Retret Anak-anak Retret anak-anak merupakan retret yang diperuntukkan untuk anak- anak dengan usia TK-SD. Aktivitas didalamnya lebih disesuaikan dengan karakter anak yang senang bermain. Biasanya kegiatan retret didalamnya dikoordinasikan oleh beberapa pembimbing anak-anak dan satu orang pembimbing retret. b. Retret Remaja Retret remaja merupakan retret yang diperuntukkan untuk usia remaja SMP- Mahasiswa. Kegiatan didalamnya lebih banyak doa dan renungan serta permainan (game) sebagai bahan refleksi untuk menemukan lambang diri, dimasa perkembangan kaum muda yang rawan dengan hal-hal yang negatif. Biasanya dilangsungkan selama beberapa hari dengan 2-3 orang pembimbing retret. c. Retret Dewasa Retret dewasa merupakan retret yang diperuntukkan untuk usia dewasa, yang dimaksudkan adalah usia kerja. Kelompok yang terlibat dalam retret ini pria dan wanita dewasa yang jenuh dengan pekerjaan, memerlukan ketenangan dari aktivitas kerja yang memenuhi kegiatan keseharian mereka. Kegiatan yang mendominasi retret orang dewasa biasanya meditasi dan renungan. Dilaksanakan selama beberapa hari dengan didampingi 1-2 orang pembimbing retret. d. Retret Orang Tua Retret ini merupakan retret untuk orang tua atau yang sudah memiliki keluarga. Kegiatan didalamnya lebih didominasi dengan meditasi dan renungan, biasanya hal yang ingin didapat saat retret adalah

Page 27
45 ketenangan pribadi. Bahan retret biasanya ditentukan berdasarkan kasus sehari-hari yang mereka alami. Dilaksanakan selama beberapa hari 1-2 hari dengan didampingi pembimbing. 2.2.4.3. Retret Berdasarkan Pelaku a. Kelompok Religius Retret ini merupakan retret yang memiliki anggota yang terdiri dari kelompok-kelompok religius, misalnya para calon imam, para suster atau frater. Pola pendekatan yang digunakan dilihat dari: pengalaman keberdosaan, pengalaman kebangkitan, dan pengalaman dicintai. b. Kelompok Pelajar Retret ini merupakan retret yang anggotanya merupakan kelompok pelajar SD, SMP, SMA dan mahasiswa. Kegiatan didalamnya lebih disesuaikan dengan karakter mereka sebagai pelajar yang sedang berkembang. Pola pendekatan yang digunakan biasanya dilihat dari segi psikologi, yaitu: perihal buruk diri, perihal niat nyata, dan perihal konkrifikasi. Bahan perenungan dalam retret direfleksikan dari kejadian hal buruk sampai pada keadaan nyata dalam hidup mereka sehari-hari. c. Kelompok Produksi Retret ini merupakan retret yang anggotanya merupakan kelompok kerja baik yang aktif maupun pasif. Aktif dalam pengertian pekerjaan yang dilakukan berat dan berhubungan dengan lapangan. Sedangkan pasif pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam ruangan atau kantor. Pola pendekatan yang dilakukan sama dengan kelompok remaja yaitu dilihat dari segi psikologi dan religius. 2.2.4.4. Retret Berdasarkan Pola Kegiatan a. Proses Pola kegiatan retret yang berdasarkan proses yaitu digali dari objek, dengan kata lain adalah lebih pada anggota. Bahan-bahan yang

Page 28
46 digunakan dalam retret ditentukan oleh anggota retret, diambil dari kegiatan sehari-hari anggota retret atau pengalaman pribadi. b. Semi Proses Pola kegiatan retret yang bahan bimbingan atau kegiatan dalam retret sebagian dari anggota retret dan sebagian dari pembimbing retret. c. Non Proses Pola kegiatan retret yang bahan bimbingannya semua berdasarkan dari pembimbing yang membimbing retret. Bahannya biasa dari buku-buku atau pengalaman memberikan bimbingan. 2.2.4.5. Retret Berdasarkan Kapasitas a. Retret Personal Retret personal merupakan retret yang anggotanya hanya 1-2 orang. Biasanya dilaksanakan dalam tiga hari (Triduum), tujuh sampai delapan hari (Quartuum) dan retret agung 30 hari. Retret ini hanya melibatkan satu atau dua orang dengan satu orang pendamping. Retret ini lebih intensif dan bersifat privat atau pribadi. Peserta dapat leluasa mencurahkan apa yang dirasakan kepada pembimbing. Kelemahan dari retret ini biasanya peserta merasakan kejenuhan karena hanya sendiri. Kegiatan retret personal ini biasanya dilaksanakan dirumah peserta. b. Retret Kelompok Retret kelompok merupakan retret yang anggotanya 10-100 orang dan dilaksanakan selama tiga gari (Triduum) atau 7-10 hari (Quartuum). Kegiatan retret ini biasanya didalam gedung yang disewa atau rumah retret. Retret yang melibatkan beberapa orang sehingga bahan refleksi dan renungan bisa dari sharing, atau kegiatan yang dilakukan bersama. c. Retret Komunal Retret komunal merupakan retret yang biasanya hanya dilaksanakan selama 1-3 hari saja, yang terlibat didalamnya lebih dari seribu

Page 29
47 orang. Kegiatan retret didalamnya dengan lebih ke khotbah sebagai bahan refleksi dan perenungan. 2.2.5. Pelaksanaan Kegiatan Retret Terdiri dari berbagai rangkaian acara, yaitu:24 1. Doa : Merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mendekatkan diri umat dengan Tuhan. 2. Refleksi : Kegiatan yang dilakukan agar para peserta retret dapat memperbaiki kehidupannya dengan melihat kembali perbuatan yang pernah dilakukan, sehingga bisa mengarahkan dirinya pada masa yang akan datang. 3. Bimbingan Rohani : Kegiatan yang melibatkan hubungan antara pembimbing dengan para peserta retret, kegiatan ini bisa berupa ceramah, perenungan, dll. 4. Diskusi : Merupakan rangkaian acara yang melibatkan para peserta retret untuk membahas hal yang bersifat rohaniah, sehingga menjalin hubungan yang akrab, saling mendidik, serta bertukar pikiran satu dengan yang lain. 5. Renungan : Merupakan kegiatan formal religius, yaitu mensyukuri kebesaran Tuhan dan kasih-Nya dengan cara bersujud sehingga menuntut suasana yang hening dan tenang. 6. Sharing : Biasanya dilakukan dalam bentuk kelompok, yaitu saling bertukar pikiran, pengalaman / pandangan untuk memperkuat persaudaraan antara umat yang satu dengan yang lainnya. 7. Konsultasi : Merupakan suatu fasilitas pelayanan yang khususnya disediakan para pembimbing untuk para pembimbing untuk para peserta yang ingin berkonsultasi tentang permasalahn-permasalahan yang sedang dihadapi. 8. Kegiatan Refreshing : Kegiatan ini biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari, bisa berupa olahraga, permainan-permainan dan jalan-jalan ke lingkungan sekitar tempat retret, untuk melihat keindahan dan keagungan alam.
24
http://kas.or.id/?id=175&action=Read, diakses tanggal 9 Maret 2012.

Page 30
48 2.2.6. Hal-hal Pokok dalam Retret Hal-hal pokok yang diperhatikan dalam pelaksanaan retret agara dapat berjalan dengan baik adalah :25 1. Ketenangan Ketenangan yang dimaksud di sini tentunya lebih dari sekedar tentang secara lahiriah saja. Namun, ketenangan lahiriah tetap diperlukan. Arah yang mau dicapai adalah ketenangan batiniah. Ketenangan batiniah akhirnya harus sebagai manifestasi ketenangan batiniah. Maka, ketenangan lahiriah ini tidak boleh dilaksanakan hanya sebagai bentuk keterpaksaan. Ketenangan lahiriah ini harus benar-benar tercipta dalam sikap diri retretan. Perlu kita sadari bahwa ketenangan lahiriah merupakan salah satu cara untuk menciptakan ketenangan batiniah. Ketenangan lahiriah ini bukan berarti kita secara penuh diam, tetapi ketenangan lahiriah yang dimaksudkan adalah keadaan di mana kita tidak rusuh. Jadi, dalam retret tidak sepenuhnya menuntut untuk tenang. Namun, acara yang diperbolehkan untuk tenang. Ketenangan lahiriah yang kita ciptakan dapat kita lihat dari segala tindak tanduk kita. Hal sederhana untuk menciptakan ketenangan lahiriah dapat kita lakukan dengan cara tidak hanya gerak pada saat retret. Gerak-gerakan kita hanya dilakukan seperlunya. Selain itu ketenangan lahiriah dapat diciptakan dengan banyak cara tidak banyak bicara pada saat retret. Maka dari itu, para retretan tidak diperkenankan untuk berbincang-bincang dengan retretan yang lain pada saat-saat tertentu. Jika ketenangan lahiriah sudah terbentuk, maka ketenangan batiniah dapat tercipta dengan mudah. Ketenangan adalah keadaan di mana hati, batin dan pikiran kita dalam keadaan tenang. Ketenangan batin ini sangat ditekan dalam retret karena ketenangan dapat membantu kaum muda untuk mengenali diri lebih dalam. Selain itu, kaum muda sangat mendambakan ketenangan karena kaum muda saat ini terbiasa dengan
25
http://kas.or.id/?id=175&action=Read, diakses tanggal 9 Maret 2012.

Page 31
49 dirinya sendiri serta dunia yang ramai. Kaum muda perlu dilatih untuk menguasai daya penyembuhan melalui sikap diam. Suasana tenang ini sangat didambakan oleh kaum muda itu sendiri. Mereka mendambakan saat-saat teduh, jauh dari kebisingan, saat mereka dapat meninggalkan suasana gaduh untuk mengadakan refleksi. Refleksi ini akan lebih terasa mendalam jika kita dalam situasi yang tenang baik tenang lahiriah maupun tenang batiniah. Maka ketenangan dalam retret sangat dibutuhkan sekali agar para retretan dapat menyadari diri lebih mendalam. 2. Keterbukaan Retret merupakan metode pengolahan hidup agar kita semakin menyadari keberadaan diri. Penyadaran diri ini berguna bagi kita untuk lebih mengenal dan lebih memahami perkembangan diri. Dalam menyadari keberadaan diri dibutuhkan suatu keterbukaan dalam pengolahan. Keterbukaan dalam sikap dan tindakan sangat diperlukan dalam retret.Keterbukaan ini sangatlah membantu untuk mengetahui keberadaan diri dan dapat membantu kita dalam pengolahan. Keterbukaan itu perlu kita bangun berawal dari pribadi kita masing- masing karena dengan ini, kita dapat terbuka pada sesame dan Tuhan. Keterbukaan kepada diri sendiri dapat kita bangun melalui sebuah kejujuran kepada diri kita. Kadang para kaum muda kurang jujur akan keberadaan diri mereka yang sedang mengalami pubertas. Biasanya sikap keterbukaan itu terhambat karena terbentengi oleh perasaan malu akan keadaan diri kita, misalnya: mendapat nilai yang jelek, keadaan tubuh yang kecil, dan lain-lain. Menyadari keberadaan diri merupakan langkah kita semakin mengenal diri kita masing-masing. Oleh karena itu, keterbukaan sangat diperlukan agar kita dapat membuka diri. Keterbukaan yang kita bangun hendaknya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi kita juga berani terbuka dengan sesama dan Tuhan. Agar kita berani terbuka dengan sesama, kita

Page 32
50 harus menaruh rasa percaya kepada sesama dan kita harus jujur kepada Tuhan akan tindak-tanduk kita dan segala perubahan-perubahan kita. Kita tidak biasa menyembunyikan segala sesuatu dari hadapan Tuhan karena Dialah yang Maha Tau. Selain kepercayaan terhadap diri untuk membentuk suatu keterbukaan, sebagai pendamping harus memberikan teladan yang baik kepada setiap retretan. Teladan-teladan yang diberikan kepada setiap retretan terwujud dalam interaksi selama acara retret itu berlangsung. Teladan-teladan dari pendamping dalam bergaul bersama retretan selama retret sangat membantu retretan untuk berani terbuka. Keterbukaan dalam retret sangat membantu proses jalannya retret agar arah pembimbingnya berjalan sesuai alur. 3. Kerja Sama Retret kaum muda dapat kita andaikan sekelompok orang yang berkumpul bersama untuk mengolah diri secara pribadi. Pengolahan tersebut secara mutlak diberikan kepada setiap pribadi kaum muda. Pengolahan tersebut membutuhkan pendampingan agar dapat membantu kaum muda dalam mengolah diri mereka masing-masing. Peranan pendamping dalam acara retret sangat membantu para retretan untuk membimbing kaum muda dalam melangkah. Para pendamping dalam retret ini hadir sebagai teman atau orang yang lebih dewasa yang dapat membimbing mereka dalam proses pencarian diri. Pendampingan mereka dapat berupa pemberian materi, sharing dan dinamika kelompok. Bentuk-bentuk pendampingan tersebut membutuhkan kerjasama antara pendamping dengan retretan. Kerjasama ini merupakan salah satu langkah para pendamping agar mereka dapat dekat dengan kaum muda. Selain itu, kerjasama dapat membantu kaum muda menangkap materi-materi yang diberikan dapat dimengerti dengan mudah.

Page 33
51 Materi-materi yang diberikan akan sampai kepada setiap pribadi kaum muda bila komunikasi antarapendamping dengan retretan terjalin dengan baik. Komunikasi ini terjadi karena dengan komunikasi kita memberikan informasi. Dalam proses komunikasi, seseorang cenderung untuk mengatakan apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan kepada sesama. Tentu saja, informasi dan pikiran itu diungkapkan dengan bahasa atau tingkah laku yang dapat ditangkap oleh sesama. Oleh karena itu, agar dapat terjalin sebuah komunikasi yang baik antara pendamping dengan retretan, kita membutuhkan suatu bentuk kerjasama yang baik. Bagi pendamping kerjasama ini membantu dalam menyampaikan materi lewat kerjasama inilah pendamping menyampaikan permintaan yang menyangkut hal-hal teknis dan praktis dalam retret. Kerjasama bagi para retretan dibentuk membantu retretan dalam mengolah materi. 4. Kedisiplinan Kaum muda yang kita ketahui saat ini adalah kaum muda yang sulit diatur. Mereka ingin berbuat menurut kehendak mereka masing-masing tanpa ada orang yang mengingatkan karena keadaan kaum muda yang seperti ini timbul kesulitan dalam menghadapi mereka dalam retret. Hal biasa yang terjadi dalam retret adalah para retretan berkumpul dalam satu kamar untuk bermain. Permainan yang dilakukan biasanya kartu, bahkan ada pula yang main kartu dan merokok, dan minum-minuman keras. Kasus-kasus diatas mencerminkan perilaku yang kurang disiplin saat melaksanakan retret. Selama perjalanan retret dituntut suatu sikap disiplin agar setiap acara dapat berlangsung dengan baik. Kedisiplinan dalam retret menyangkut kedisiplinan waktu dan kedisiplinan kehadiran selama retret. Para pendamping perlu mengenalkan tata tertib selama retret berlangsung. Tata tertib ini diperkenalkan sejak awal para retretan datang ke rumah retret.

Page 34
52 Pendamping memperkenalkan tata cara atau kebiasaan yang ada dalam rumah retret tersebut agar mereka dapat memahami peraturan yang ada. Kedisiplinan yang ingin dicapai hendaknya diberi contoh- contoh yang kongkret seperti selama retret tidak diperkenankan membuat gaduh suasana, para retretan datang tepat waktu dalam setiap materi dan lain-lain. Kedisiplinan yang mau dicapai dalam retret ialah ketepatan waktu dan masalah-masalah kenakalan para retretan dapat teratasi. 2.3. Tinjauan Retret Kaum Muda 2.3.1. Retret Bagi Kaum Muda Merebaknya budaya globalisasi dalam dunia masa kini mengakibatkan lemahnya daya moralitas kaum muda dalam membangun relasi bersama dengan orang lain dan meningkatnya kecenderungan sikap individualitis dan ketakacuhan kaum muda terhadap orang lain. Padahal menurut Ervin Staub, moralitas merupakan serangkaian aturan, kebiasaan atau prinsip yang mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama, suatu perilaku yang mencerminkan keluhuran manusia. Kelemahan moralitas kaum muda dalam membangun relasi bersama dengan orang lain semakin membuat kaum muda itu sendiri bersikap individualistis, artinya tidak lagi mempedulikan orang lain melainkan ia hanya berpusat pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia melihat dirinya sebagai ��pahlawan�� di mana di dalam dirinya sendiri ia menemukan kebenaran yang pasti dalam perkembangan hidupnya. Inilah yang dikatakan oleh Kohlberg, bahwa kaum muda sering terbelenggu oleh sikap individualisme yang mencari penghiburan dan rasa aman pada tingkah laku teman- teman sebaya. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa kaum muda memiliki sikap apatis dengan mengatakan ��uruslah urusanmu sendiri, dan biarlah orang lain menyelesaikan urusannya sendiri. 26 Dalam diri kaum muda yang memberi dampak terbesar bagi Kristus terdapat sifat-sifat seperti yang dikatakan Paulus kepada Timotius dalam 1 Timotius 4:12.
26
http://www.gsn-soeki.com/rendhi.word.wouw/a000325.php , diakses tanggal 2 Maret 2012.

Page 35
53 Dalam usahanya meyakinkan Timotius bahwa usia mudanya tidaklah harus menjadi penghalang bagi pelayanan, Paulus memintanya untuk menjadi ��teladan bagi orang- orang percaya�� dalam beberapa hal. Dalam perkataan: Kaum muda yang memberi pengaruh bagi Kristus mengendali-kan apa yang mereka katakan, menghindari perkataan yang merendahkan, dan mengucapkan perkataan yang menghormati Allah. Dalam tingkah laku: Kaum muda yang santun bertingkah laku memancarkan terang yang dapat dilihat oleh semua orang. Dalam kasih: Dengan menaati perkataan Yesus untuk mengasihi Allah dan sesama (Mat. 22:37-39) para kaum muda dapat menyenangkan hati Yesus dan menyentuh banyak jiwa. Dalam kesetiaan: Mereka yang mempraktekkan iman dalam perbuatannya akan membawa perubahan dalam hidup orang lain. Dalam kesucian: Memang sulit untuk memegang teguh kemurnian moral dan iman, tetapi anak muda yang dapat melakukannya dapat menjadi teladan bagi siapa saja. Perkataan Paulus bukan berlaku bagi kaum muda saja. Kita semua harus menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Itulah cara kita memberi dampak bagi Kristus. Dalam perkembangan globalisasi dapat dikatakan sebagai tantangan bagi kaum muda masa kini. Sebagai harapan masa depan gereja dan masyarakat, kaum muda berada dalam posisi antara harapan dan kecemasan, karena dengan hadirnya globalisasi kaum muda di satu pihak menemukan jati dirinya melalui sikapnya yang individualistis, tetapi di lain pihak kaum muda mengalami krisis dalam pencarian iman mereka, karena mereka dihadapkan pada dua sisi kehidupan yang saling berseberangan, yaitu antara yang rohani dan yang jasmani. Maka perlu adanya suatu pembinaan bagi keluarga kristiani yang biasanya dilakukan dengan mengadakan bimbingan lewat kegiatan-kegiatan rohani. Pembinaan rohani umat kristiani salah satunya adalah retret.

Page 36
54 Retret merupakan pembinaan dari segi rohani yang mengajak individu untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari sehingga kehidupan itu dapat dipahami maknanya. Kaum muda diajak untuk memahami makna hidup yang umumnya sulit ditemukan dalam kesibukan hidup sehari-hari. Melangkah secara benar dengan menyadari bahwa setiap orang dipanggil untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Pembinaan kaum muda lewat retret dilakukan melalui kegiatan-kegiatan doa, renungan, diskusi, permainan dan kegiatan lain yang bisa dijadikan bahan perenungan untuk mereka. Kegiatan yang memerlukan suasana yang tenang tanpa merasa jenuh dan bosan sehingga mereka dapat mengolah dan mengerti dari makna hidup yang mereka cari, sehingga diperlukan tempat yang dapat memfasilitasi kegiatan-kegiatan mereka. 2.3.2. Pembinaan Bagi Kaum Muda 2.3.2.1. Persepsi Tentang Pembinaan Sehubungan dengan pembinaan orang muda yang berbeda dengan pendidikan formal lewat jalur sekolah, terdapat empat persepsi mengenai pembinaan yaitu:27 2.3.2.1.1. Pembinaan sebagai pendampingan Belajar dari kehidupan Tuhan Yesus yang berjalan bersama murid-murid yang mengalami frustasi (Luk 24 13-35), seseorang pembina berziarah seiring-sejalan dengan kaum muda dalam pergumulan mereka, dengan: bertanya dan mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian menjelaskan dan membuka pikiran mereka pada saat yang tepat membuat mereka menyadari kehadiran Kristus sebagai pengalaman kebangkitan
27 Mangunhardjana, AM, SJ. Membimbing Rekoleksi, Kanisius Yogyakarta, 1994, hal 51.

Page 37
55 Persepsi ini membangun kesadaran kaum muda akan diri dan situasi lingkungan untuk membangun sikap hidup pribadi. Selain itu dengan pembinaan sebagai pendampingan kaum muda akan mampu menciptakan iklim dimana subjek-bina (kaum muda) dapat terbina dan membina diri sendiri. Lingkungan sosial tidak lagi dilihat sekedar sebagai input yang sifatnya normative-imperatif, tetapi sebagai stimulus (rangsangan, tantangan) bagi perkembangan pribadi-sosial kaum muda. 2.3.2.1.2. Pembinaan sebagai pelayanan Berguru pada sikap, tindakan dan ajaran Yesus yang melepaskan jubah kemudian membasuh kaki para murid- bagian terbawah dan paling kotor dari tubuh ( Yoh 13: 1-17), dengan sikap pelayanan, kaum muda yang mengalami kehadiran, sikap, dan tindakan pembina sebagai „ pelayan dan abdi‟ yang bebas dari pamrih, mereka juga akan bertumbuh dalam semangat pelayanan dan pengabdian sejati. 2.3.2.1.3. Pembinaan sebagai perwujudan cinta Pembinaan sebagai perwujudan cinta memiliki metode pembinaan yang rela berkorban dan siap berjuang, mencari jalan yang terbaik, berani mengambil resiko dan bertahan menghadapi berbagai kesulitan. Tidak adanya cinta, maka tidak dapat mengembangkan kreativitas, yang ada hanyalah rutinitas, duplikasi kegiatan dan pengulangan yang membosankan. Dengan pembinaan yang disertai dengan cinta, maka pembina akan selalu mencari cara pendekatan, metode, dan bentuk kegiatan yang kreatif agar memikat dan mengikat kaum muda untuk berkomitmen pada nilai kebersamaan dalam komunitasnya. 2.3.2.1.4. Pembinaan sebagai pemberdaya Dengan ketiga pemahaman yang membentuk persepsi dasar dalam pembinaan, maka pembinaan akan menjadi suatu empowerment, pemberdaya yang :

Page 38
56 menyadarkan dan membebaskan memekarkan potensi dan membangun kepercayaan diri menumbuhkan kesadaran kritis-konstruktif- bertanggung jawab dan mendorong mereka berperan sosial-aktif Pemberdayaan itu merupakan suatu proses yang berlangsung dalam tiga tahapan: penyadaran diri dan potensi, pengembangan daya kritis melalui model-model analisis sosial, dan penemuan bersama bentuk-bentuk pergerakan untuk pembaruan. 2.4. Rangkuman Seiring berjalannya waktu, dunia semakin berubah dengan beranekaragam inovasinya. Masyarakat sedang dilanda sebuah proses perubahan yang dinamakan globalisasi. Teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi dominan dalam setiap seluk beluk kehidupan. Indonesia juga tak luput dari proses perkembangan global yang disebut globalisasi itu. Nilai- nilai budaya timur, terlebih budaya Indonesia semakin digeser dan digantikan dengan budaya asing. Tatanan hidup sosial sudah bergeser dan bahkan digantikan dengan tatanan hidup yang bagi kita, bangsa Indonesia terasa asing. Dengan adanya globalisasi, generasi muda pasti akan terpengaruh dengan masuknya arus budaya (pendatang). Proses perkembangan zaman membawa banyak pengaruh dan paham-paham baru dalam perkembangan kaum muda. Hal tersebut menjadikan banyak kaum muda yang tidak kuat akan jati diri mereka masing-masing. Maka dari itu, perlu adanya sebuah pembinaan yang dapat menuntun kehidupan kaum muda sampai mereka dapat menemukan jati diri yang sebenarnya. Setiap pembinaan merupakan suatu proses. Artinya pembinaan itu tidak berhenti ketika kegiatan itu selesai, melainkan berlangsung terus menerus baik secara pribadi maupun kelompok, dan tanpa didampingi oleh pembina atau pendamping khusus. Setiap kaum muda membutuhkan pendampingan semacam ini. Mereka dapat dikatakan membutuhkan suatu arah atau dasar yang tepat untuk melangkah ke tujuan yang benar.

Page 39
57 Kaum muda sangat membutuhkan pendampingan, yang tidak sekedar membina atau mendampingi tapi juga mengarahkan mereka untuk mengembangkan apa yang telah mereka peroleh. Pendampingan semacam ini dapat diwujudkan dalam proses kegiatan retret kaum muda. Dalam sebuah proses pembinaan kaum muda, beberapa faktor yang harus diperhitungkan adalah sebagai berikut: a. Definisi kaum muda menurut usianya. Dari beberapa pengertian dan batasan tentang kaum muda yang ada, maka yang disebut kaum muda adalah para muda mudi yang berumur 13 sampai 20 tahun. Namun untuk penyesuaian dalam pembentukan pembinaan kaum muda maka usia yang dimaksud dalam hal ini adalah usia 15-35 tahun. b. Perkembangan masa kaum muda Menurut Rm. Mangunhardjana, ada beberapa yang perlu diperhatikan berkaitan dengan kaum muda (seperti: pertumbuhan fisik, perkembangan mental, perkembangan emosional, perkembangan sosial, perkembangan moral, perkembangan religius). Kaum muda yang sedang bertumbuh dan berkembang terdapat dalam situasi yang berbeda-beda. Mereka sedang bertumbuh dalam segala bidang yang tentunya tidak sama. Selain itu pengaruh lingkungan juga menjadi penentu arah hidup mereka. Apabila ekonomi keluarga mereka di bawah standar maka mereka juga kemungkinan menghadapi permasalahan personal, dan pasti akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Sebaliknya apabila ekonomi mereka menengah ke atas, maka pertumbuhan dan perkembangan mereka akan berbeda pula. c. Karakteristik kaum muda Kaum muda merupakan masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke 20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan. Karakteristik kaum muda yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini sering menimbulkan masalah pada diri kaum muda. Karakter dari setiap kaum

Page 40
58 muda berkembang dari pengaruh dari lingkungan dimana dia hidup dan menyesuaikan diri. Dari beberapa pernyataan diatas, maka dari itu sangatlah penting bagi kehidupan kaum muda untuk mendapatkan pembinaan melalui kegiatan retret kaum muda. Dalam perancangannya, kegiatan retret kaum muda ini dikhususkan untuk kaum muda yang bertujuan untuk menunjang pembentukan karakter kaum muda sehingga mereka dapat menemukan jati diri mereka yang sebenarnya. Prinsip pembinaan pada kaum muda lebih menyangkut pada pengalaman yang sering mereka dapatkan dikehidupannya masing-masing. Dengan memiliki sebuah pengalaman hidup yang beraneka ragam, maka kaum muda dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu, kaum muda juga dapat menemukan pembinaan bagi kehidupannya melalui kehidupan sosialnya yaitu kebersamaan dan kerja sama dengan orang lain. Kegiatan retret kaum muda juga terdapat proses kebersamaan dan kerja sama dengan orang lain. Aktifitas yang lebih sering terdapat di rumah retret adalah belajar untuk dapat bekerjasama dengan orang lain, contohnya dengan membentuk kelompok dalam menyelesaikan sebuah permainan. Kerjasama tersebut dapat menciptakan karakter kaum muda untuk dapat saling tolong menoling dan menyatukan pikiran mereka untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Kegiatan di Rumah Retret Kaum Muda di Yogyakarta memiliki manfaat agar setiap peserta kegiatan retret dapat merasakan kebaikan Yesus yang telah berkorban di kayu Salib. Salib merupakan tonggak utama yang dijadikan sebagai pedoman dalam pembinaan kaum muda di Rumah Retret Kaum Muda. Salib merupakan simbol dari agama Kristen sebagai perwujudan dari pengorbanan Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia. Beberapa makna utama yang terkandung pada Salib adalah sebagai berikut: 1. Kemenangan Kemenangan ini merupakan suatu hal yang lebih maju, lebih beruntung, dan lebih lainnya yang didapati oleh manusia yang telah didapat pengorbanan Yesus di kayu Salib.

Page 41
59 2. Keselamatan Keselamatan berarti tindakan atau hasil dari pembebasan atau pemeliharaan dari bahaya atau penyakit, mencakup keselamatan, kesehatan dan kemakmuran. Pergeseran arti 'keselamatan' dalam Alkitab bergerak dari ihwal fisik ke kelepasan moral dan spiritual. Demikianlah bagian-bagian paling depan Perjanjian Lama (PL) berkembang dari menekankan cara-cara hamba Allah yang secara perseorangan terlepas dari tangan musuh-musuh mereka, ke pembebasan umat-Nya dari belenggu dan bermukimnya di tanah yang makmur; bagian-bagian paling akhir PL memberikan tekanan yg lebih besar pada keadaan-keadaan dan kualitas-kualitas keterberkatan secara moral dan religius, dan memperluasnya sampai melampaui batas-batas kebangsaan. Perjanjian Baru (PB) dengan jelas menunjukkan keterbudakan manusia kepada dosa, bahaya dan kekuatan dosa, dan kelepasan dari dosa yg hanya dapat diperoleh dalam Kristus.
3. Perdamaian
Damai adalah sebuah keadaan tenang, seperti yang umum di tempat-tempat yang terpencil, mengijinkan untuk tidur atau meditasi. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari definisi- definisi di atas.

Set Home | Add to Favorites

All Rights Reserved Powered by Free Document Search and Download

Copyright © 2011
This site does not host pdf,doc,ppt,xls,rtf,txt files all document are the property of their respective owners. complaint#nuokui.com
TOP