Home > 1 RENCANA DISERTASI SERAPAN KARBON DIOKSIDA OLEH GREEN BARRIER (STUDI KASUS JALAN BEBAS HAMBATAN SURABAYA – SIDOARJO) Untuk memenuhi t

1 RENCANA DISERTASI SERAPAN KARBON DIOKSIDA OLEH GREEN BARRIER (STUDI KASUS JALAN BEBAS HAMBATAN SURABAYA – SIDOARJO) Untuk memenuhi t


RENCANA DISERTASI

SERAPAN KARBON DIOKSIDA OLEH

GREEN BARRIER

(STUDI KASUS JALAN BEBAS HAMBATAN SURABAYA – SIDOARJO) 
 

Untuk memenuhi tugas mata kuliah

PERENCANAAN LINGKUNGAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH (PTT 8104)

&

EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

(PSA 8102)

DOSEN : PROF. DR. Ir. SUMARNO, M.S.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Oleh :

Muzayanah

NIM. 117040100111035 
 
 

PROGRAM DOKTOR ILMU PERTANIAN

MINAT PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN 

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012 

KATA PENGANTAR 
 

      Segala puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat dan kelancaran dalam penyusunan rencana disertasi yang berjudul ��Serapan Karbon dioksida oleh Green Barrier��, Penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah meluangkan waktu untuk membantu penyusunan rencana disertasi ini.

      Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalam penyusunan rencana disertasi.  Untuk itu penyusun mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan disertasi ini. 
 
 

                      Januari, 2012 

                        penulis 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 

                DAFTAR ISI 
                 

                KATA PENGANTAR   i

                RINGKASAN   ii 

                DAFTAR ISI    iii 

                DAFTAR TABEL    v 

                DAFTAR GAMBAR   vi 

                BAB 1  PENDAHULUAN   1

                  1.1  Latar Belakang   1

                  1.2  Perumusan Masalah   3

                  1.3  Tujuan Penelitian   3

                  1.4  Manfaat Penelitian   4

                BAB 2  TINJAUAN PUSTAKA   5

                  2.1.  Karbon Dioksida   5

                  2.2.  Transportasi Sebagai Sumber Emisi Karbondioksida   6

                  2.3.  Faktor Emisi Kendaraan Bermotor   8

                  2.4. Sebaran Emisi Karbon dioksida   10

                    2.4.1  Proses Yang Dialami Oleh Pencemar   10

                  2.4.2.  Meteorologi Yang Mempengaruhi Sebaran Emisi Karbondioksida   11

                  2.5.  Model Sebaran Karbon dioksida   17

                  2.6.  Model Gaussian   19

                  2.7.  Tanaman Pereduksi Karbon Dioksida (CO2 )   23

                BAB 3  KERANGKA KONSEP PENELITIAN   26

                  3.1  Kerangka Pikir   26

                  3.2  Hipotesis   28

                  3.3  Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel   29

                BAB 4  METODE PENELITIAN   30

                  4.1  Tempat dan Waktu Penelitian   30

                  4.2  Bahan dan Alat   30

                  4.3  Metoda Penelitian   30

                  4.4  Pengamatan Variabel   31

                BAB 5. JADWAL PELAKSANAAN   32

                DAFTAR PUSTAKA   vii 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 
                 

                DAFTAR TABEL 

                  Tabel 2.1. Faktor Emisi Kendaraan Bermotor Bahan Bakar Bensin   9

                  Tabel 2.2. Konsumsi Energi Spesifik Tiap Kendaraan   9

                  Tabel 2.3. Klasifikasi Stabilitas Atmosfer   13

                  Tabel 2.4. Persamaan Empirik Koefisien Dispersi Untuk Kota   23

                  Tabel 2.5   Tanaman Pereduksi CO 2   23 
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   
                   

                  DAFTAR GAMBAR 

                    Gambar 1.1.  Posisi Green Barrier pada Penampang Melintang Jalan Bebas Hambatan   2

                    Gambar 2.1    Perkiraan Emisi CO2 dari Sektor Transportasi 2000-2007  8

                    Gambar 2.2.  Bunga angin (windrose)  12

                    Gambar 2.3  Sistem Koordinat Untuk Distribusi Gaussian Pada Arah Horizontal dan Vertikal  20

                    Gambar 3.1  Konsep  Penelitian   26

                    Gambar 5.1.  Jadwal Pelaksanaan   32 
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                     

                    BAB 1

                    PENDAHULUAN 
                     

                    1.1. Latar Belakang

                          Sektor transportasi termasuk penyumbang karbon dioksida kedua setelah pembangkit energi dari batu bara. Sektor jalan yang dominan menghasilkan karbon dioksida tinggi adalah jalan bebas hambatan dan titik-titik kemacetan.

                          Pada jalan bebas hambatan (tol) kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi sehingga akan mengkonsumsi bahan bakar lebih tinggi dibandingkan kendaraan yang berjalan dengan kecepatan rendah (Eerens, H.C., 1993).

                          Karbondioksida yang berasal dari kendaraan pada jalan bebas hambatan akan memberikan kontribusi pada peningkatan konsentrasi karbondioksida di udara. Menurut para ilmuwan dari IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) peningkatan karbondioksida di udara mengakibatkan peningkatan suhu udara. Secara global peningkatan suhu udara akan mengakibatkan fenomena perubahan iklim (Global Climate Change).

                          Dari hasil beberapa penelitian skala mikro , tumbuhan mampu menyerap karbondioksida. Kemampuan penyerapan karbondioksida oleh tumbuhan tergantung pada jenis tumbuhan.

                          Untuk mengurangi konsentrasi karbon dioksida yang terpapar pada jalan bebas hambatan, di sepanjang tepi bahu jalan biasanya ditanami tanaman yang mampu menyerap karbon dioksida. Jajaran tanaman ini dikenal sebagai Ruang Terbuka Hijau atau Green Belt atau Green Barrier.

                          Selain berfungsi untuk menyerap karbon dioksida, Green Barrier bisa berfungsi sebagai penyerap partikulat dan kebisingan yang dihasilkan dari lalu lalangnya kendaraan bermotor. Posisi Green Barrrier pada penampang jalan bebas hambatan dapat dilihat pada Gambar 1.1 berikut. 

                          

                     

                     
                     
                     
                     
                     
                     

                          Gambar 1.1. Posisi Green Barrier pada Penampang Melintang Jalan Bebas Hambatan 

                          Selama ini model yang seringkali digunakan untuk analisis sebaran polutan kendaraan bermotor atau jalan raya adalah model Gaussian.  Model Gaussian memprediksi sebaran polutan yang dikeluarkan oleh cerobong (stack) dengan mempertimbangkan kondisi meteorologis  yaitu arah angin, kecepatan angin dan stabillitas udara, tanpa mempertimbangkan adanya perubahan pulutan selama proses transportasi pada saat terjadi dispersi.

                          Sedangkan secara alamiah polutan karbon dioksida dari kendaraan bermotor pada jalan bebas hambatan selain mengalami dispersi, juga akan mengalami proses serapan oleh Green Barrier pada saat proses tranportasi pada saat terdispersi.

                          Pencemaran yang diemisikan  dari setiap sumber yang ada, akan tersebar di atmosfer, melalui suatu proses dispersi, difusi, transformasi kimiawi dan pengenceran yang kompleks. Di samping itu, akibat pergerakan dan dinamika atmosfer sendiri, pencemaran yang masuk ke dalam atmosfer dan telah mengalami proses-proses tadi, akan dapat berpindah dari titik asal sumbernya ke arah atau kawasan lain, sesuai dengan arah dan kecepatan angin dominan yang berlaku. Dalam arti, pergerakan (transport) pencemaran udara di dalam atmosfer akan terjadi dalam tiga dimensi, baik horisontal maupun transversal, sesuai dengan arah angin (adveksi), maupun vertikal. Oleh karena itu, penelitian udara harus memasukkan faktor-faktor meteorologi (Soedomo, 2001) 

                    1.2. Perumusan Masalah

                          Dari uraian diatas, dapat dirumuskan permasalahan untuk penelitian ini yaitu :

                    • Apakah Green Barrier berpengaruh pada dispersi polutan karbon dioksida pada jalan bebas hambatan ?
                    • Bagaimana model empirik sebaran karbon dioksida yang berasal dari kendaraan bermotor pada jalan bebas hambatan dengan mempertimbangkan efek  serapan karbon dioksida oleh Green Barrier ?
                     

                    1.3. Tujuan Penelitian

                         Tujuan yang ingin didapat dari penelitian ini adalah :

                    • Menyempunakan formula Gaussian yang sering dipakai untuk prediksi sebaran polutan
                    • mendapatkan model matematika empirik sebaran karbon dioksida pada jalan bebas hambatan dengan mempertimbangkan efek serapan karbon dioksida oleh Green Barrier.
                     
                     
                     
                     

                    1.4. Manfaat Penelitian

                          Dari tujuan penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu formula hasil penelitian bisa digunakan untuk perencanaan Green Barrier pada jalan bebas hambatan untuk penyerapan karbon dioksida sebagai upaya pengendalian peningkatan karbon dioksida di udara sebagai satu penyebab pemanasan global. 
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                    BAB 2

                    TINJAUAN PUSTAKA 
                     
                     

                    2.1. Karbon dioksida

                          Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Karbon dioksida berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi.

                          Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan volume. Jumlah ini bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Sifat-sifat CO2 antara lain :

                    1. Tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm
                    2. Pada temperatur di bawah -78,51 ��C, langsung menyublim menjadi padat. Bentuk padat ini biasa disebut sebagai ��es kering��.
                    3. Pada keadaan STP, rapatan karbon dioksida berkisar sekitar 1,98 kg/m3 kira-kira 1,5 kali lebih berat dari udara.
                     

                      Pembakaran dari semua bahan bakar yang mengandung karbon, seperti metana (gas alam), distilat minyak bumi (bensin, diesel, minyak tanah, propana), arang dan kayu akan menghasilkan karbon dioksida. Contohnya reaksi antara metana dan oksigen :

                    CH4 + 2 O2 �� CO2 + 2 H2O. 

                          Gas CO2 tidak beracun, tetapi pada konsentrasi yang terlalu tinggi dalam udara akan menurunkan konsentrasi O2 dan menimbulkan efek fisiologis yang membahayakan. Air hujan dapat melarutkan gas CO2 dari udara dan membentuk asam karbonat (H2CO3) yang menyebabkan air hujan bersifat asam (hujan asam).

                          Karbon dioksida  (CO2)  termasuk kelompok Gas Rumah Kaca (GRK). Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas di atmosfir yang memungkinkan sebagian  panas matahari tertahan di atas permukaan bumi. Secara alami Gas Rumah Kaca (GRK) juga memancarkan kembali panas matahari agar semuanya tidak diserap bumi, tetapi hanya sebagian saja. Dengan demikian  Gas Rumah Kaca (GRK) membuat suhu di bumi pada titik yang layak huni bagi makhuk hidup. Gas Rumah Kaca (GRK) secara alami juga menjaga iklim di bumi tetap stabil. Artinya perbedaan suhu antara malam dan siang di permukaan bumi tidak berbeda jauh. (Rukaesih, 2004)

                          Dengan makin meningkatnya jumlah penduduk yang disertai dengan meningkatnya kegiatan manusia terutama dalam bidang transportasi, akan meningkatkan konsentrasi karbon dioksida (CO2). Seiring dengan meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (CO2) di udara akan menimbulkan peningkatan efek rumah kaca, yang mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu di seluruh permukaan bumi yang dikenal dengan pemanasan global (Global Warming).  

                    2.2. Transportasi sebagai sumber emisi karbondioksida  

                          Transportasi telah menjadi sumber utama dari emisi karbon khususnya di daerah perkotaan. Terlebih lagi dengan bertambahnya unit kendaraan bermotor yang melaju di jalan raya dan buruknya sistem angkutan umum yang jelas memberikan kontribusi terhadap nilai emisi karbon yang dihasilkan.

                       Faktor penting yang menyebabkan dominannya pengaruh sektor transportasi terhadap emisi karbon dioksida perkotaan di Indonesia, antara lain (Soedomo, 2001) : 

                    1. Perkembangan jumlah kendaraan yang cepat (eksponensial).
                    2. Tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan yang ada.
                    3. Pola lalu lintas perkotaan yang berorientasi memusat akibat terpusatnya kegiatan-kegiatan perekonomian dan perkantoran di pusat kota.
                    4. Masalah turunan akibat pelaksanaan kebijakan pengembangan kota yang ada, misalnya daerah pemukiman penduduk yang semakin menjauhi pusat kota.
                    5. Kesamaan waktu aliran lalu lintas.
                    6. Jenis, umur dan karakteristik kendaraan bermotor.
                    7. Faktor perawatan kendaraan.
                    8. Jenis bahan bakar yang digunakan.
                    9. Jenis permukaan jalan.
                    10. Siklus dan pola mengemudi (driving pattern).
                     

                       Di samping faktor-faktor yang menentukan intensitas emisi pencemar sumber di atas, faktor penting lainnya adalah faktor potensi dispersi atmosfer daerah perkotaan, yaitu kondisi dan perilaku meteorologi. (Soedomo, 2001).

                       Secara nasional, emisi CO2 yang dihasilkan dari sektor transportasi meningkat yaitu dari 58 juta ton pada tahun 2000 menjadi 73 juta ton pada tahun 2007. Kontribusi emisi CO2 terbesar berasal dari konsumsi premium dan turunannya serta solar. (Kementerian Lingkungan Hidup, 2009)

                    Gambar 2.1 Perkiraan Emisi CO2 dari Sektor Transportasi 2000-2007

                              (sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2009) 

                    2.3. Faktor emisi kendaraan bermotor

                          Faktor emisi adalah koefisien yang menghubungkan suatu aktivitas dengan jumlah senyawa kimia tertentu yang kemudian menjadi sumber emisi. Faktor emisi juga didefinisikan sebagai sejumlah berat tertentu polutan yang dihasilkan oleh terbakarnya sejumlah bahan bakar selama kurun waktu tertentu. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa jika faktor emisi sesuatu polutan diketahui, maka banyaknya polutan yang lolos dari proses pembakarannya dapat diketahui jumlahnya persatuan waktu. Adapun faktor emisi dari kendaraan bermotor dapat dlihat pada Tabel 2.1. 
                     
                     

                    Tabel 2.1. Faktor emisi kendaraan bermotor bahan bakar bensin


                    Bahan Bakar Jenis Kendaraan CO (gr/l) CO2 (gr/l) Km/l

                    (assumption)

                    Bensin Kendaraan penumpang
                      462,3
                    2597,86 8,4
                      Kendaraan niaga besar 295,37 2597,86 7,4
                      Kendaraan niaga kecil 281,14 2597,86 4,4
                      Sepeda Motor 427,05 2597,86 19,6
                             
                    Solar Kendaraan penumpang 11,86 2924,90 13,7
                      Kendaraan niaga besar 15,81 2924,90 9,3
                      Kendaraan niaga kecil 35,57 2924,90 3,3
                      Lokomotif 24,11 2924,90  

                    (Sumber : IPCC, 2007) 

                    Sedangkan konsumsi energi spesifik untuk setiap kendaraan dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut :

                    Tabel 2.2. Konsumsi energi spesifik tiap kendaraan


                      Jenis Kendaraan Bahan Bakar Konsumsi Energi (l/km)
                      Mobil penumpang Bensin 11,79
                      Solar 11,36
                      Bus besar Bensin 23,15
                      Solar 16,89
                      Bus Sedang Bensin 13,04
                      Bus Kecil Bensin 11,35
                      Solar 11,83
                      Bemo/bajaj Bensin 10,49
                      Taxi Bensin 8,22
                      Solar 10,64
                      Truk Besar Bensin 15,82
                      Truk Sedang Bensin 15,11
                      Truk Kecil Bensin 8,11
                      Solar 10,64
                      Sepeda Motor Bensin 2,66

                             (Sumber : IPCC, 2007) 
                     
                     

                    2.4.Sebaran Emisi Karbondioksida

                    2.4.1 Proses yang dialami oleh pencemar

                          Di atmosfer, berbagai polutan udara akan melalui berbagai proses. Baik percampuran antara polutan yang satu dengan yang lain yang pada akhirnya akan meningkatkan komposisi polutan itu sendiri, bahkan memunculkan jenis polutan baru. Namun alam mempunyai proses sendiri yang secara alamiah dapat mengurangi maupun memindahkan konsentrasi berbagai partikulat tersebut sebagai akibat faktor meteorologi (Neiburger, 1995).

                       Pencemar udara akan dipancarkan oleh sumbernya dan kemudian mengalami transportasi, dispersi, atau pengumpulan karena kondisi meteorologi maupun topografi (Neiburger, 1995).

                    1. Proses penyebaran

                      Penyebaran zat pencemar yang diemisikan dari sumbernya ke udara diakibatkan oleh adanya pengaruh down wind. Dalam perhitungan, nilai kecepatan dan arah angin diperlukan sebagai indikasi pergerakan udara di suatu daerah. Bahkan untuk jarak yang pendek, profil pergerakan udara biasanya akan sangat kompleks.  

                    1. Proses pengenceran

                      Pengenceran dan pencampuran zat pencemar di udara diakibatkan oleh adanya gerakan turbulen. Kondisi udara pada umumnya mempunyai kecepatan pengenceran yang diakibatkan oleh pencampuran (turbulensi).  

                    1. Proses perubahan

                      Zat pencemar selama berada di udara akan mengalami perubahan fisik dan kimia, sehingga membentuk zat pencemar sekunder. Contohnya smog yang merupakan hasil interaksi di udara antara oksida nitrogen, hidrokarbon, dan energi matahari. Peristiwa ini dikenal dengan reaksi fotokimia.  

                    1. Proses penghilangan

                      Zat pencemar di atmosfer akan mengalami penghilangan atau pengurangan karena adanya proses-proses meteorologi, seperti hujan. Fenomena ini dapat dipelajari dengan numerical atmospheric diffusion model.

                      Pola gerakan atmosfer atau dinamika atmosfer sangat berperan dalam penyebaran polutan pencemar yang masuk ke dalam atmosfer (udara ambien). Faktor-faktor dinamika yang mempengaruhi adalah :

                      1. Transportasi atau pengangkutan zat oleh aliran udara horisontal atau angin.
                      2. Transportasi atmosfer vertikal atau konveksi
                      3. Difusi, baik difusi molekuler maupun difusi turbulensi.
                     
                     

                      2.4.2. Meteorologi yang mempengaruhi sebaran emisi karbondioksida

                       Faktor meteorologis sangat memperngaruhi sebaran emisi karbon pada suatu lokasi. Beberapa konsep meteorologi antara lain (Huboyo, 2008) :

                    1. Sirkulasi Angin

                        Angin merupakan udara yang bergerak sebagai akibat perbedaan tekanan antara daerah yang satu dan lainnya. Perbedaan pemanasan udara menyebabkan naiknya gradien tekanan horisontal, sehingga terjadi gerakan udara horisontal di atmosfer. Oleh karena itu, perbedaan temperatur antara atmosfer di kutub dan di ekuator (khatulistiwa), serta antara atmosfer di atas benua dengan di atas lautan menyebabkan gerakan udara dalam skala yang sangat besar.

                        Angin lokal terjadi akibat perbedaan temperatur setempat. Untuk sebuah daerah, efek sirkulasi angin terjadi tiap jam, tiap hari, dan dengan arah dan kecepatan yang berbeda-beda. Distribusi frekuensi dari arah angin menunjukkan daerah mana yang paling tercemar oleh polutan. Salah satu hal penting dalam meramalkan penyebaran zat pencemar adalah mengetahui arah dan besarnya kecepatan angin.

                        Arah angin bisanya didefinisikan dengan wind rose, yang mana berbentuk grafik (vektor) yang menggambarkan frekuensi distribusi dari arah angin pada berbagai variasi kecepatan yang terjadi pada suatu lokasi dengan waktu tertentu. Wind rose adalah sebuah statistik angin yang terdiri dari frekuensi, arah, kekuatan, dan kecepatan, seperti terlihat pada Gambar 2.2.

                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                    Gambar 2.2. Bunga angin (windrose) (Sumber : Liu & Liptak, 2000) 

                    1. Turbulensi

                        Secara garis besar, pola gerakan atmosfer dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu aliran laminar dan aliran turbulen. Difusi turbulen terjadi pada aliran turbulen, menyebabkan terjadinya percampuran dalam atmosfer, baik arah horizontal maupun vertikal. Komponen penentu tingkat turbulensi di atmosfer adalah stabilitas atmosfer atau stabilitas udara. Dalam penelitian JICA (1996) dinyatakan bahwa parameter untuk mengetahui stabiltas atmosfer dikemukakan oleh Pasquill dan diperbarui oleh Gifford lalu dimodifikasi oleh Senshu. Stabiltas atmosfer ini dibagi menjadi 7 (tujuh) kelas stabilitas, yang dibedakan dengan huruf A, B, C, D, E, dan F. Klasifikasi dari stabilitas atmosfer dapat dilihat pada Tabel 2.3.

                      Tabel 2.3. Klasifikasi Stabilitas Atmosfer

                    Kecepatan Angin (m/s) Siang Hari

                    (radiasi sinar matahari)

                    Malam Hari

                    (kondisi awan)

                    Kuat Sedang Lemah Mendung <4/8 Cerah >3/8
                    < 2 A A - B B E F
                    2 - 3 A - B C D E F
                    3 - 5 B B C D E
                    5 - 6 C - D D D D D
                      >6
                    C D D D D

                      Sumber : Colls (2002)

                    Keterangan :  A = sangat tidak stabil

                               B = tidak stabil

                               C = sedikit tidak stabil

                               D = netral

                               E = stabil

                                F = sangat stabil

                               G = Lebih stabil dari kelas F

                        Secara umum, polutan-polutan di atmosfer terdispersi dalam 2 cara yaitu melalui kecepatan angin dan turbulensi atmosfer. Turbulensi atmosfer terjadi akibat dari gerakan angin yang berfluktuasi dan memiliki frekuensi lebih dari 2 cycles/hr.

                        Fluktuasi turbulensi terjadi pada arah vertikal dan horisontal, hal ini merupakan mekanisme yang efektif untuk menghilangkan polutan di udara. Turbulensi menyebabkan terjadinya aliran udara melalui 2 cara : pusaran thermal dan pusaran mekanis.  

                    1. Temperatur

                        Perubahan temperatur pada setiap ketinggian mempunyai pengaruh yang besar pada pergerakan zat pencemar udara di atmosfer. Perubahan temperatur ini disebut lapse rate. Turbulensi yang terjadi tergantung pada temperatur. Di atmosfer sendiri diharapkan akan terjadi penurunan temperatur dan tekanan sesuai dengan pertambahan tinggi. Udara ambien dan adiabatic lapse rates mempengaruhi terbentuknya stabilitas atmosfer.

                        Dalam keadaan dimana temperatur sekumpulan udara lebih tinggi dari sekitarnya, maka kerapatan dari udara yang bergerak naik dengan kecepatan rendah lebih kecil daripada kerapatan udara lingkungannya dan udara berhembus secara kontinu. Pada saat udara bergerak turun akan terbentuk aliran udara vertikal dan turbulensi terbentuk. Keadaan atmosfer dalam kondisi di atas dikatakan tidak stabil. Ketika sekumpulan udara menjadi lebih dingin dibandingkan dengan udara sekitarnya, sekumpulan duara itu akan kembali ke elevasinya semula. Gerakan ke bawah akan menghasilkan sekumpulan udara yang lebih hangat dan akan kembali ke elevasi semula. Dalam kondisi atmosfer seperti ini, gerakan vertikal akan diabaikan oleh proses pendinginan adiabatik atau pemanasan, dan atmosfer akan menjadi stabil.

                        Pembagian keadaan atmosfer terdiri dari :

                    • Superadiabtic, keadaan dimana ambient lapse rate berada di atas adiabatic lapse rate dan atmosfer menjadi tidak stabil.
                    • .Neutral, keadaan dimana 2 lapse rates akan seimbang.
                    • Subadiabatic, keadaan dimana ambient lapse rate berada di bawah adiabatic lapse rate dan atmosfer menjadi stabil.
                    • Isothermal, keadaan ketika temperatur udara konstan di atmosfer maka ambient lapse rate menjadi nol dan atmosfer stabil.
                    • Inversion, keadaan ketika temperatur udara ambien meningkat sesuai dengan ketinggian maka lapse rate menjadi negatif atau keadaan dimana udara hangat menyelimuti udara dingin.
                    1. Kelembaban Udara  

                        Kelembaban adalah konsentrasi uap air air di udara. Konsentrasi dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban spesifik, atau kelembaban relatif. Dalam kaitannya dengan penguapan air yang di udara yang menyebabkan berubahnya temperatur, kandungan air dalam suhu kamar dapat mencapai 3% pada 30 ��C (86 ��F), dan tidak lebih dari sekitar 0,5 % pada 0 ��C (32 ��F).

                        Kelembaban relatif adalah perbandingan menyangkut tekanan uap air di dalam gas apapun terutama udara ke keseimbangan tekanan penguapan air, di mana gas dinyatakan jenuh ada temperatur tersebut, dinyatakan dalam persentase perbandingan antara massa air saat ini per volume gas dan massa per volume dari gas jenuh (Roberts, 2005).

                        Kelembaban relatif dalam atmosfer merupakan unsur yang sangat penting untuk cuaca dan uap air dalam udara. Tinggi rendahnya kelembaban udara dapat menentukan besar kecilnya kandungan bahan pencemar baik di ruang tertutup dan ruang terbuka akibat adanya pelarut bahan pencemar yang menyebabkan terjadinya pencemaran. Sedangkan kelembaban udara juga dipengaruhi oleh bangunan gedung dan pohon penghijauan di pinggir jalan dan sinar matahari.

                        Kelembaban udara umumnya adalah kelembaban relatif. Perbandingan antara tekanan uap air aktual dengan tekanan uap air pada kondisi tempat jenuh, umumnya dinyatakan dengan persen (%). Tekanan uap air adalah tekanan parsial uap air dalam udara bebas di suatu tempat tertentu dengan jumlah tertentu.  

                      1. Urban Island Heat

                          Akumulasi panas dalam daerah perkotaan pada siang hari akan mengakibatkan keseimbangan radiatif pada malam hari yang berbeda dengan daerah pedesaan di sekitarnya yang menyimpan panas lebih sedikit pada siang hari. Oleh karena itu, akan terjadi suatu gumpalan panas di daerah perkotaan, yang isotermalnya biasanya terletak di daerah pusat kota. Intensitas gumpalan panas ini akan bergantung kepada :

                        • Kecepatan angin kritis di atas gumpalan panas,
                        • Awan dan presipitasi,
                        • Lapisan pencampuran (mixing layer).
                       
                       
                       
                       

                      2.5. Model sebaran karbondioksida

                            Pemodelan kualitas udara sangat penting karena membantu untuk memprediksi dampak dari pembangunan suatu proyek/kegiatan. Yang nantinya digunakan sebagai bahan pertimbangan para stokeholder untuk membuat keputusan mengenai pembangunan suatu daerah.

                            Telah diketahui bahwa secara alami bangunan sekitar mempengaruhi polusi lalu lintas (Hickman, 1973). Hickman (1973) menunjukkan bahwa konsentrasi CO yang lebih tinggi ditemukan pada jalan tol, dan lampu lalu lintas dibanding tempat-tempat lain yang lalu lintasnya sepi. Ini dikarenakan kendaraan menghabiskan waktu lebih banyak dipersimpangan karena mengantri dan fase percepatan dan perlambatan yang dilakukan lebih banyak menghasilkan polusi dibanding dengan kecepatan yang teratur. Dampak pencemaran udara pada lingkungan perkotaan telah menjadi isu penelitian penting, yang mengarah pada beberapa studi yang berhubungan dengan pengaruh bangunan dan struktur kota lain pada akumulasi polutan dan pola dispersi (Sotiris et al., 2003).

                            Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model street canyon dan beberapa model kualitas udara lain. Hubungan antara emisi dan udara diterjemahkan dengan model disperse pencemaran. Model dikembangkan berdasarkan teori statistic Taylor, dengan pendekatan dispersi polutan sebagai fungsi nilai variabel random pasti. Parameter utamanya adalah kondisi meteorologi dan kosentrasi polutan, dimana topografis dan efek bangunan jarang tergabung pada model, kecuali pada studi khusus.

                         Ada empat model yang dikembangkan berdasarkan konsep ini (Baumbach, 1996). yaitu:

                      • Model Lagrange,
                      • Model K,
                      • Model Box, dan
                      • Model Gaussian
                       

                         Menurut Soedomo (2001), model yang dikembangkan terdiri atas beberapa submodel, yaitu :

                      1. Submodel emisi sumber

                        Data masukan untuk submodel emisi adalah informasi sumber pencemar yang ditekankan pada penggunaan energi pada sektor transportasi. Data yang masuk dalam submodel ini akan menghasilkan emission load dari sumber emisi transportasi, dan akan diolah datanya bersama-sama dengan hasil dari submodel meteorologi untuk membuat model dispersi pencemar.

                      1. Submodel meteorologi

                        Data masukan untuk submodel meteorologi meliputi data arah dan kecepatan angin, radiasi sinar matahari, dan ketinggian lapisan pencampur. Submodel ini digunakan untuk menghitung frekuensi distribusi dari data meteorologi selama tahun. Hasil keluaran submodel ini akan menjadi masukan dalam submodel dispersi bersama dengan data keluaran submodel emisi.

                      1. Submodel dispersi karbon dioksida

                        Menurut Colls (2002) untuk model dispersi kerbon dioksida dapat dibagi menjadi 3 model utama yaitu :

                        1. Model Euler

                          Secara numerik model ini dapat digunakan untuk menyelesaikan perhitungan difusi atmosfer. Selain itu dapat juga digunakan untuk mengetahui pergerakan emisi dari sumber titik di atmosfer. Alat untuk sensor euler adalah windvane atau anemometer.  

                        1. Model Gauss

                          Model ini dibuat berdasarkan distribusi probabilitas normal Gauss dari sektor angin dan fluktuasi konsentrasi polutan. Model ini hampir sama dengan model euler tetapi lebih diperuntukkan dalam skala lebih besar.

                        1. Model Lagrange

                          Berdasarkan proses dari pergerakan massa udara atau proses dari dispersi partikel. Dalam pengukuran untuk model ini digunakan balon natural densitas.  

                      2.6. Model Gaussian

                            Model dispersi emisi karbondioksida bisa dilakukan dengan pendekatan modeling komputer untuk menentukan konsentrasi emisi pada titik tertentu. Modeling komputer yang paling umum untuk dispersi polutan adalah dengan model Gaussian (Budisulistiorini, 2007).

                            Model dispersi Gaussian didasari distribusi normal atau Gaussian untuk mendeskripsikan pencampuran pencemar udara di atmosfer pada arah vertikal dan horizontal dari sumber yang disebabkan oleh turbulensi. (Turner, 1994). (Baumbach et al. 1996), mengatakan model Gaussian sangat bermanfaat untuk memprediksi dispersi senyawa nondeposit dari sumber tanpa memperhatikan perubahan fisik dan kimia saat transport. Ditambahkan oleh Turner (1994), penggunaan model Gaussian bisa digunakan untuk sumber lain, seperti sumber garis, area, rural, urban dan sumber instan. Persamaan Gaussian menggunakan sistem koordinat seperti terlihat pada Gambar 2.3.

                            .

                            

                      Gambar 2.3 Sistem koordinat untuk distribusi Gaussian pada arah horizontal dan vertikal (Sumber: Colls, 2002) 
                       

                          Persamaan asli dari Gaussian

                       ....................................(2.1)

                       Dimana :

                       ................... (2.2) 

                       Keterangan persamaan Gaussian :

                       C = konsentrasi pada titik perhitungan (ppm)

                       x = jarak dari sumber ke titik perhitungan searah arah angin (m)

                       y = jarak dari sumber ke titik perhitungan arah kanan atas dari arah angin

                       z = tinggi pada titik perhitungan (m)

                       Q = emission rate dari polutan (m3/dt)

                       u = rata-rata kecepatan angin (m/dt)

                       He = tinggi stack efektif ��y,

                       z = koefisien difusi dalam arah y dan z (m)

                       �� / �� = rate of increase of the horizontal/vertical plume width (m/dt)

                       t = waktu dari stack atau pipa pembuangan gas (dt) 

                        Persamaan dasar Gaussian adalah persamaan yang menghitung konsentrasi dari sumber titik (point source). Supaya dapat diterapkan dalam menghitung konsentrasi dari sumber garis (line source) memiliki asumsi, saat sumber titik bergerak sepanjang garis secara kontinyu (kendaraan di jalan raya), sama seperti sumber garis (Colls, 2002).

                    Khare (2007) mengatakan persaman dasar Gaussian tersebut diperolah dengan menerapkan beberapa asumsi, antara lain:

                    1. Keadaan berada pada kondisi stabil, dimana dianggap emisi dari sumber selalu kostan (tetap)
                    2. Aliran seragam, dimana dianggap kecepatan angin konstan baik berdasarkan waktu maupun ketinggian.
                    3. Polutan bersifat konservatif dan tak ada kejatuhan akibat gravitasi.
                    4. Refleksi sempurna dari kepulanan pada dasar permukaan, contoh tidak ada penyerapan oleh tanah.
                    5. Difusi turbulen ke arah x diabaikan, karena relatif terhadap adveksi ke arah transportasi (x), yang berarti bahwa model bisa diterapkan untuk kecepatan angin lebih rata-rata dari 1 m / s.
                    6. Sistem koordinat diarahkan dengan x-axis ke arah aliran, dan v (lateral) dan w (vertikal) komponen dari waktu rata-rata vektor angin diatur ke nol.
                    7. Medan yang mendasari kepulan ini datar.
                    8. Semua variabel dianggap rata-rata, yang berarti jangka panjang rata-rata dengan kondisi stasioner.
                   

                    Banyak batasan yang muncul akibat asumsi – asumsi tersebut. Sebagai contoh, asumsi kondisi steady-state menyebabkan persamaan hanya bisa diaplikasikan untuk jarak pendek (10 km) dan waktu perjalanan yang singkat (2 jam).

                    Oleh karena itu dilakukan modifikasi terhadap persamaan model Gaussian diatas, untuk menghilangkan/minimalisir fungsi error.

                   

                  .(2.3)  

                  Keterangan:

                    C = konsentrasi pada titik perhitungan (mg/m3)

                    x = jarak dari sumber ke titik perhitungan searah arah angin (m)

                    z = tinggi pada titik perhitungan (m)

                    Q = emission rate dari polutan (g/m.detik)

                    u = rata-rata kecepatan angin (m/dt)

                    h0 = tinggi stack efektif

                    ��z = koefisien difusi dalam z (m)

                       Karena cerobong kendaraan bermotor diletakkan horisontal (tidak ada penambahan tinggi), berbeda dengan cerobong industri dan rumah tangga yang diletakkan vertikal; sehingga h0 = tinggi cerobong kendaraan.  

                  Menentukan nilai ��z

                        Penentuan nilai ��z berdasarkan persamaan empirik koefisien dispersi untuk kota. Berikut adalah tabel persamaan empirik koefisien dispersi untuk kota Tabel 2.4. Persamaan empirik koefisien dispersi untuk kota

                  (sumber : Heison, 1999) 

                  2.7. Tanaman pereduksi karbon dioksida (CO2 )

                  Tanaman pereduksi CO2 sangatlah dibutuhkan untuk mengurangi kadar CO2 di udara. Tabel 2.5 berikut menyebutkan jenis tanaman yang dapat mereduksi CO2
                   
                   
                   
                   
                   
                   

                   

                  Tabel 2.5 Tanaman Pereduksi CO2


                  No. Nama Lokal Nama Ilmiah Daya Serap CO2 (Kg/pohon/tahun)
                  1. Trembesi * Samanea saman 28.448,39
                  2. Cassia * Cassia sp 5.295,47
                  3. Kenanga * Canangium odoratum 756,59
                  4. Pingku Dysoxylum excelsum 720,49
                  5. Beringin * Ficus benyamina 535,90
                  6. Krey payung Fellicium decipiens 404,83
                  7. Matoa Pornetia pinnata 329,76
                  8. Mahoni * Swettiana mahagoni 295,73
                  9. Saga * Adenanthera pavoniana 221,18
                  10. Bungkur * Lagerstroema speciosa 160,14
                  11. Jati Tectona grandis 135,27
                  12. Nangka Arthocarpus heterophyllus 126,51
                  13. Johar Cassia grandis 116,25
                  14. Sirsak Annona muricata 75,29
                  15. Puspa Schima wallichii 63,31
                  16. Akasia Acacia auriculiformis 48,68
                  17. Flamboyan * Delonix regia 42,20
                  18. Sawo Kecik Manilkara kauki 36,19

                  Sumber: Trubus, 2000 
                   
                   
                   
                   
                   

                  Tabel 2.5. Lanjutan tabel 2.5.


                  No. Nama Lokal Nama Ilmiah Daya Serap CO2 (Kg/pohon/tahun)
                  19. Tanjung * Mimusops elengi 34,29
                  20. Bunga Merak * Caesalpinia pulcherrima 30,95
                  21, Sempur Dilena retusa 24,24
                  22. Khaya Khaya anthotheca 21,90
                  23. Merbau Pantai Intsia bijuga 19,25
                  24. Angsana * Pterocarpus indicus 11,12
                  25. Asam Kranji * Pithecelobium dulce 8,48
                  26. Saputangan Maniltoa grandiflora 8,26
                  27. Dadap Merah * Erythrina cristagalli 4,55
                  28. Rambutan Nephelium lappaceum 2,19
                  29. Asam * Tamarindus indica 1,49
                  30 Kempas Coompasia excelsa 0,20

                    * = Tanaman yang ditanam oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya

                    (Sumber : Trubus, 2009) 
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                    BAB 3

                    KERANGKA KONSEP PENELITIAN 
                     

                    3.1 Kerangka Pikir

                          Kerangka pikir atau konsep penelitian untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :

                           
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                    Gambar 3.1 Konsep  Penelitian 

                          Dari diagram konsep penelitan seperti terdapat pada Gambar 3.1 dan  hasil kajian pustaka bahwa Green Barrier bisa menyerap karbon dioksida, maka konsentrasi karbon dioksida sebelum melewati Green Barrier (Cxo) berbeda dengan sesudah melewati Green Barrier (Cx). Serapan karbon dioksida oleh Green Barrier tergantung pada kondisi Green Barrier dan kondisi meteorologi. Kondisi Green Barrier meliputi : jenis vegetasi , tebal Green Barrier (L), intensitas cahaya (S). Kondisi meteorologi meliputi : tekanan (P) , temperatur (T) , arah dan kecepatan angin (W).  

                    Secara matematik dapat ditulis 

                          Cx = ƒ( Cxo  ; L ; S ; P ; T ; W )   ����������������.��................... ( 1 )  

                          Dengan mengasumsikan serapan karbon dioksida oleh Green Barrier tidak linier , maka  pola hubungan positif– negatif dapat ditulis:

                          Cx  =  Cxo  - La -  Sb  - P  + T  ��  W ������������.......................��( 2 ) 

                    Tanda positif dan negatif pada variabel kecepatan angin menunjukkan arah angin. Bertanda negatif jika arah angin menuju Green Barrier, bertanda positif bila arah angin menjauhi Green Barrier.

                          Dari persamaan (2) jika dimensi variabel tetap dan variabel tidak tetap akan disamakan, maka tiap variabel harus dikalikan suatu konstanta untuk menyamakan dimensi variabel, sehingga persamaan (2) akan menjadi :

                    Cx  =    Cxo -  KL La -  KS Sb – KPP +  KT T ��  KW W ����.............. ( 3 )

                    Dimana :

                       KL  = Koefisien lebar Green Barrier

                       KS = Koefisien intensitas cahaya

                       KP = Koefisien  Tekanan Udara

                       KT  =  Koefisien Temperatur

                       KW = Koefisien pengaruh angin 

                          Pada kondisi dinamis ( temporal) untuk persamaan (3) dapat ditulis :

                    Cx(t)  =    Cxo(t) -  KL La (t) -  KS Sb (t) – KPP(t) +  KT T(t) ��  KW W(t) ����.. ( 4 ) 

                          Satu persamaan (4) mencerminkan kondisi konsentrasi pada satu jenis  dari satu  Green Barrier dengan vegetasi tertentu dan waktu tertentu .

                          Pada satu jenis Green Barrier yang akan terdiri dari beberapa waktu pengukuran yang mengakibatkan jumlah persamaan akan lebih dari satu membentuk satu sistem persamaan. Sistem persamaan untuk satu jenis Green Barrier dapat ditulis dalam bentuk  adalah :

                    Cx(tn)  =    Cxo(tn) -  KL La (tn) -  KS Sb (tn) – KPP(tn) +  KT T(tn) ��  KW W(tn) ����.. ( 5 )

                           

                          Sistem persamaan ( pers 5) dapat diselesaikan dengan metoda Iterasi Gauss-Seidel untuk mendapatkan nilai koefisien tiap variabel.

                          Validasi  model empirik dilakukan untuk mendapatkan nilai koefisien dari variabel tidak tetap. Validasi dengan uji korelasi antara konsentrasi karbon dioksida  setelah Green Barrier hasil pengukuran  (Cx) dengan hasil model empirik.  

                    3.2. Hipotesis

                    Hipotesis dari penelitian ini ialah :

                    1. Konsentrasi karbon dioksida setelah Green Barrier akibat efek serapan Green Barrier tergantung pada kondisi Green Barrier dan kondisi meteorologi. Kondisi Green Barrier meliputi : jenis vegetasi, tebal Green Barrier (L) , intensitas cahaya (S) . Kondisi meteorologi meliputi : tekanan (P) , temperature (T) , arah dan kecepatan angin (W).
                    2. Ada korelasi erat antara konsentrasi karbon dioksida setelah Green Barrier (Cx) hasil pengukuran dengan hasil model empirik.

                    3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

                       Didasarkan model konsep pada persamaan (5) maka operasionalisasinya adalah komponen (faktor) dari  model matematik empirik yang sesuai dengan persamaan (5).  Variabel didapatkan dari pengukuran lapangan ialah :

                    • jenis vegetasi ( Karakteristik Green Barrier )  
                    • Konsentrasi karbon dioksida sebelum Green Barrier (Cxo)
                    • Konsentrasi karbon dioksida setelah melewati Green Barrier (Cx)
                    • Tebal Green Barrier (L) 
                    • Intensitas cahaya (S)
                    • Tekanan (P) 
                    • Temperatur (T) 
                    • Arah dan kecepatan angin (W)
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                    BAB 4

                    METODE PENELITIAN 
                     

                    4.1. Tempat dan Waktu Penelitian 

                         Lokasi penelitian dilakukan di Jalan bebas hambatan (Tol) Surabaya - Sidoarjo.  Lokasi observasi  adalah lokasi yang terdapat Green Barrier. Jumlah lokasi observasi setelah dilakukan observasi lapangan untuk mengklasifikasikan karakteristik Green Barrier.

                         Waktu penelitian dilakukan untuk musim kemarau dan musim penghujan , mengingat kondisi Green Barrier  sebagai penyerap karbon dioksida akan berubah karena perubahan musim. 

                    4.2. Bahan dan Alat

                          Peralatan yang digunakan  untuk studi ini  , yaitu :

                    • Gas Analyzer , untuk mengukur konsentrasi   CO2  
                    • Anemometer  & Win Direction
                    • Termometer
                    • Manometer
                    • Flux Meter
                    • Meteran
                     
                     

                    4.3 Metoda Penelitian

                    Secara umum Penelitian terdiri dari 3 Tahapan , yaitu :

                    • Tahap Persiapan
                    • Tahap Obsevasi  ( Survey dan Pengukuran )
                    • Tahap Analisis atau Pembuatan Model Empirik

                         Tahap persiapan meliputi : studi literatur, persiapan peralatan, pelaksanaan AQC (Analitycal Quality Control) peralatan dan pengumpulan data sekunder.

                         Tahap observasi (survey dan pengukuran ) meliputi : Klasifikasi Green Barrier pada jalan bebas hambatan Surabaya-Sidoarjo. Pemilihan lokasi observasi, pengukuran variabel (konsentrasi karbon dioksida sebelum dan sesudah Green Barrier, tebal Green Barrier,   tekanan , temperature, intensitas cahaya , arah & kecepatan angin)

                         Tahap Pembuatan Model Empirik meliputi : Analisis dimensi , Penyusunan Sistem Persamaan Non Linier dari pada satu jenis Green Barrier. Penyelesaian sistem persamaan tidak linier dengan metoda Iterasi Gauss Seidel. Untuk validasi model digunakan uji korelasi. 

                    4.4. Pengamatan Variabel 

                         Pengamatan variabel dilakukan setiap 4 jam sekali selama satu hari.  Tiap jenis Green Barrier dilakukan pengamatan 10 hari tiap musim. Sehingga didapatkan 40 kondisi (persamaan)  tiap satu jenis Green Barrier untuk 1 musim. Pengamatan dilakukan untuk 2 musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan.  
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                    BAB 5

                    JADWAL PELAKSANAAN 
                     

                    Jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 10 berikut 

                    Gambar 5.1. Jadwal Pelaksanaan 
                     
                     
                     
                     
                     
                     

                    DAFTAR PUSTAKA 
                     

                    • Achmad, Rukaesih, (2004), Kimia Lingkungan, Penerbit Andi, 2004
                    • Baumbach, K, Droescher, F, Grauer, A, Gross, H, Steissilinger, B & Vogt, U 1996, Air quality control, Springer, Berlin, Germany.
                    • Budisulistiorini, S.H., (2007) Air pollution dispersion modeling for implementation in Jakarta Indonesia: A literature review. Department of Civil and Environmental Engineering, The University of Melbourne
                    • Colls, J., (2002). Air Pollution, Second Edition, Spon Press Tylor & Francis Group, London.
                    • Eerens, H.C., et al. (1993), The Car Model : The Dutch method to Determine City Street Air Quality, Atmospheric Environment Vol. 278, No. 4., pp 389-399.
                    • Heinson R.J., (1999). Sources and control of air pollution. New Jersey : Prenntice Hall Upper Saddle River
                    • Hickman, A.J. (1973). Atmospheric Pollution from Vehicle Emissions: Measurements at Four Sites in Coventry. TRRL Laboratory Report 695, Department of the Environment.
                    • Huboyo, H.S., dan Budihardjo, M.A., (2008). Pencemaran udara. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang.
                    • IPCC (2007). Revised 2007 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Reverence Manual. Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press, Cambridge.
                    • JICA (Japan International Cooperation Agency) dan EIMA (Environmental Impact Management Agency of Indonesia), (1996). Main Report : The Study on The Integrated Air Quality Management for Jakarta Metropolitan Area, Bapedal, Indonesia
                    • Khare, M. and Shiva, S.M., (2007), Formulation of delhi finite line source model (DFLSM), artificial neuraql networks in vehicular pollution modelling (SCI) 41, 163- 173. www.springerlink.com. 2007.
                    • Kementerian Lingkungan Hidup. (2009). Emisi gas rumah kaca dalam angka. Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
                    • Liu, D.H.F., and Liptak, B.G., (2000). Air Pollution. Lewis Publishers, New York. Matzoros, A. (1992a) A Model Of Air Pollution From Road Traffic, Based On The Characteristics Of Interrupted Flow And Junction Control: Part I-Model Description. Transportation Research-A, Vol.26A, No.4, 331-355.
                    • Neiburger, M. (1995). Memahami Lingkungan Atmosfer Kita-Terjemahan Ardino Purbu. Bandung. ITB.
                    • Roberts. K Roddick, (2005). Humidity. http://www.fsec.ucf.edu/bldg/science /humidity
                    • Soedomo, M. (1999). Kumpulan Karya Ilmiah Mengenai Pencemaran Udara. Penerbit ITB, Bandung.
                    • Soedomo, M. (2001). Pencemaran Udara, Bandung: Penerbit ITB
                    • Sotiris, V., Bernard, E.A., Fisher, K.P., Gonzalez-Flesca, N., (2003). Modelling Air quality In Street Canyons : A Review, Atmospheric Environment, No 37,155-182.
                    • Soedomo, M. (1999). Kumpulan Karya Ilmiah Mengenai Pencemaran
                    • Tjasjono, B. (1999). Klimatologi Umum. ITB.Bandung.
                    • Turner, DB (1994). Workbook of atmospheric dispersion estimates: an introduction to dispersion modeling, 2nd ed, Lewis Publishers, Boca Raton, Florida, USA.
                    • Trubus, 2009
                  •  

                     

Set Home | Add to Favorites

All Rights Reserved Powered by Free Document Search and Download

Copyright © 2011
This site does not host pdf,doc,ppt,xls,rtf,txt files all document are the property of their respective owners. complaint#nuokui.com
TOP